Kamu Adalah Pengarang Buku Kehidupanmu

Tulisan ini saya buat khusus untuk mengiringi pelepasan status saya sebagai mahasiswa S1 di salah satu institut di Indonesia. Beberapa minggu belakangan saya memang sering melakukan nostalgia pribadi terhadap diri saya sendiri. Saya mencoba me-rekaulang kejadian yang berkesan selama kuliah, mencoba mengintrospeksi kelebihan dan kekurangan saya, ketepatan cita-cita dan realisasinya, serta hal-hal lainnya. Sambil menulis tulisan ini paragraf per paragraf, biasanya saya melakukan itu semua di malam menjelang subuh karena di waktu tersebut saya bisa lebih berpikir jernih dan logis serta bebas mengungkapkan keluh kesah.

Selama kurang lebih empat tahun kuliah, banyak sekali kenangan indah yang terukir. Mulai dari teman-teman seangkatan yang luar biasa, teman-teman mbolang yang gila, hingga pengetahuan, wawasan, dan ilmu yang bermanfaat. Tentu saja, kenangan buruk juga menimpa saya. Ada dua kenangan buruk yang akan selalu saya ingat. Kenangan di semester pertama dan penyesalan bahwa saya tidak belajar dengan sungguh-sungguh selama kuliah. Dua kenangan itu adalah kenangan pilihan yang tidak akan saya lupakan. Selebihnya, banyak yang sudah saya lupakan, yang berarti memang tak terlalu berharga untuk dikenang. Life must go on, right? It is not good to keep bad things in our life. Just forget and let them go, and soon happiness will come. That is my choice 🙂 Continue reading

Advertisements

Manajemen Pikiran dan Perasaan

Beberapa bulan yang lalu saya baca kembali tulisan saya yang berjudul Manajemen Hati dan Pikiran. Saya teringat akan hal yang membuat saya menulis tulisan itu tiga setengah tahun yang lalu. Saya juga teringat bahwa tulisan itu belum selesai sepenuhnya dan saya pernah berjanji kepada beberapa pembaca untuk menuliskan lanjutannya.

Beberapa bulan lalu, seorang pembaca mengingatkan saya akan janji itu. Mulailah saya kembali belajar dan membuka berkas-berkas lama mengenai hal-hal abstrak yang saya sukai itu. Beberapa hal harus saya lakukan, seperti memahami ulang arti pikiran dan perasaan, membaca literatur, mencari contoh penggunaan pikiran dan perasaan di kehidupan nyata akhir-akhir ini, utamanya pada proses pemecahan masalah, serta berdiskusi dengan orang lain. Continue reading

A Conversation with Mind

It is been a while since I had my ‘me time’. What is ‘me time’? I call it ‘me time’ because I spend all of my time with ‘them’. Who are ‘they’? Well, if you know the theory about multiple personality, you may know about ‘them’. They are the personalities lie in one person. Among ‘them’, I know best about one personality. I often talked to ‘him’. ‘He’ is the wisest mind I’ve ever known.

The last time I talked to ‘him’ was four to six months ago. I just talked to ‘him’ about an hour but ‘he’ gave me so many things. Then, earlier, I talked to ‘him’ in a full week. It was my longest streak with ‘him’. I didn’t go anywhere at that time. I didn’t go to college. I just sat, played, and talked each other in ‘his palace’. You may think that it is ridiculous, but I don’t care. I really did it. And, I know I am not the only one. I know people who do the same thing. Continue reading

Dari Merah ke Putih

Sudah tiga hari Sudrun berwajah pucat pasi. Lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai. Persis seperti orang kena penyakit anemia. Padahal waktu ke dokter tiga hari lalu kesehatannya baik-baik saja. Lah dalah, kok sekarang jadi seperti mayat hidup gini. Kondisinya sudah seperti kurs rupiah terhadap dollar, makin hari makin mengenaskan.

“Aku bingung, Jo”, kata Sudrun.
“Ada apa, Drun?” jawab Paijo.
Gini lho, Jo. Pacarku lagi marah-marah. Minta liburan ke ibukota tapi naik pesawat. Uang darimana? Gaji pas-pas-an. Buat modal nikah saja susah. Jangankan nikah, pacaran saja nongkrongnya di warung kopi, Jo.”
“Aduh aduh. Ayak ayak wae pacarmu, Drun. Naik pesawat kan sekarang mahal. Lah, sama Pak Menteri dinaikkan harga tiketnya gegara kejadian pesawat merah kapan hari itu.” Continue reading