Kedudukan Ilmu dan Nilai dalam Pendidikan Formal

Suatu waktu ketika hasil ulangan/kuis dibagikan, pernah suatu hari saya mendengarkan teman saya yang pintar berkata seperti ini: “Sial, Cuma dapet 50. Hmm..gak apa-apa deh. Nilai gak penting. Yang penting ilmunya.” Memang biasanya dia mendapat nilai bagus. Mungkin kali ini dia tidak beruntung. Di lain kesempatan saya juga mendengarkan teman saya yang kurang pintar dan setiap ulangan nilainya biasa-biasa saja. Dia berkata “Alhamdulillah kali ini dapat 92. Akhirnya bisa juga ngalahin nilainya mas bos (mas bos cuma dapet 88 :D)”. Nah, mana yang benar? Yang satu berkata nilai tak penting sedangkan yang satu sangat senang mendapat nilai bagus. Apa benar kita hanya butuh ilmu tanpa peduli nilai? Ataukah hanya nilai yang kita butuhkan dalam belajar. Mari kita kuak misteri ini.

Pertama, konteks masalah ini adalah pendidikan formal. Lebih konkritnya lagi, saya batasi hanya untuk tingkat SD sampai kuliah. Alasannya adalah dalam rentang pendidikan itulah nilai menjadi dominan dan sangat dibutuhkan.
Dalam hal ini, saya tidak membedakan ilmu dan pengetahuan. Kita anggap kedua hal tersebut sama. Ilmu (pengetahuan) adalah hal abstrak yang kita dapatkan secara utuh . Meskipun hal itu abstrak tetapi melalui serangkaian proses penggabungan data dalam otak, hal tersebut mampu menghasilkan informasi dan dapat diwujudkan secara konkrit melalui perkataan, perbuatan, tulisan, dan lain sebagainya. Sedangkan nilai adalah bilangan yang mewakili bobot pengetahuan seseorang. Nilai biasanya memliki rentang dari nol sampai seratus.

Mengapa harus mencari ilmu? Sesuai perintah tiap agama yang ada di dunia, mencari ilmu adalah hal yang wajib kita lakukan demi kebaikan diri sendiri dan umat. Ilmu juga merupakan kebutuhan manusia karena dengan ilmu manusia dapat menyelesaikan masalah yang ada. Ilmu-lah yang akan menuntun seseorang dalam hidupnya. Semakin banyak kita tahu dan dapat mengimplementasikannya , maka semakin tinggi derajat kita, semakin kita berwibawa, semakin mudah kita dalam mengarungi hidup. Saya rasa, tak ada sisi negatifnya apabila kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Intinya, ilmu adalah kebutuhan kita yang mau tak mau harus kita penuhi.

Mengapa harus mengejar nilai? Nilai dalam dunia pendidikan dimaksudkan sebagai parameter/tolok ukur keberhasilan seseorang. Apabila nilainya tinggi, maka bisa dikatakan orang tersebut telah mampu menguasai ilmu yang diberikan. Begitu juga sebaliknya. Konsep nilai seperti ini saya rasa tidak masalah.

Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Sesuai konsep nilai di atas, nilai adalah salah satu parameter keberhasilan kita dalam mencari dan memahami ilmu yang kita dapat. Analoginya seperti ini, ada dua orang atlet lari. Mereka ingin menentukan siapa yang lebih baik. Akhirnya diadakan kontes untuk kedua atlet tersebut. Mereka harus menempuh jarak 5 km. Siapa yang tercepat dialah pemenangnya. Nah, dari analogi di atas, atlet adalah kita semua sebagai pelajar, jarak 5 km adalah target ilmu yang harus kita kuasai, dan waktu adalah parameter keberhasilan (nilai).

Mana yang lebih penting? Dengan tegas saya menjawab bahwa ilmu lebih penting. Jika saya menjawab keduanya penting, bukankah berarti keduanya juga tidak penting? Ingat kembali bahwa nilai adalah salah satu parameter keberhasilan. Masih ada parameter lain yang bisa kita gunakan. Namun, bukan berarti nilai tidak penting. Jangan lupa bahwa parameter utama dalam pendidikan formal adalah nilai. Walaupun kita merasa telah memahami ilmu yang diajarkan tetapi kita mendapat nilai jelek, bisa jadi kita tidak benar-benar memahami ilmu tersebut. Bisa jadi kita sudah merasa sombong hanya karena telah menguasai sedikit ilmu dari banyak ilmu yang seharusnya kita kuasai. Mengapa saya katakan seperti itu? Ya, benar, karena nilai adalah parameternya. Jika memang kita merasa kita telah mengusai ilmu yang diberikan, maka buktikan ketika kita dites kita mampu mendapat nilai bagus sebagai parameter kita. Jika kita gagal di satu parameter, saya rasa kita belum bisa disebut telah mengusai ilmu tersebut.

Advertisements

One response to “Kedudukan Ilmu dan Nilai dalam Pendidikan Formal

  1. syamsudin mochammad

    memang benar nilai adalah parameter keberhasilan dlm belajar selama penilaian yg dilakukan benar, agar benar perlu dilakukan penilaian proses, yaitu proses memperoleh nilai tersebut, gampangnya apakah siswa memperoleh nilai tinggi dg proses belajar yg benar, kalau ya memang nilai tadi valid, tp klo cara memperoleh nilai tadi dg mencontek dan cara2 lain yg tidak benar berarti nilai tadi tidak valid, artinya tidak bisa memberi gambaran yg benar dari keberhasilannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s