Manajemen Hati dan Pikiran

Apa yang ada di pikiran Anda ketika membaca judul di atas? Penasaran, aneh, atau tidak tahu? Simpan jawaban Anda karena saya juga merasa seperti Anda. Oke, mari beranjak topik.

Apa itu manajemen?
Manajemen adalah kemampuan untuk mengatur dan mengoordinasikan hal-hal yang ada di hidup kita dan di sekitar kita. Dengan kata lain, mengatur ketinggian siswa ketika berbaris, mengatur letak buku dalam rak, dan mengoordinasikan teman-teman ketika mengadakan acara bersama adalah suatu contoh kemampuan manajemen. Manajemen memang memiliki arti yang luas. Nah, dalam hal ini saya hanya membahas manajemen hati dan pikiran.
Manajemen hati dan pikiran adalah kemampuan seseorang dalam menempatkan/mengatur/mengoordinasikan hati (perasaan) dan pikirannya dalam mengatasi masalah. Dalam tulisan saya sebelumnya (metode berpikir), tak ada contoh yang melibatkan hati dalam penyelesaian masalah. Memang sepantasnya seperti itu. Untuk menemukan solusi kita harus menggunakan otak. Lantas, dimana peran hati dalam problem solving?
Hati (perasaan) manusia pada umumnya sensitif. Mudah sekali menerima rangsangan. Tak peduli secuek apapun orang tersebut, pasti ada kalanya dia akan tersentuh oleh sesuatu hal yang mungkin saja tak pernah dia kira. Acap kali hati tidak berdasar pada benar atau salah, tetapi senang atau tidak, nyaman atau tidak, atau dengan kata lain, hati senantiasa berdasar pada hawa nafsu seseorang. Sebagai contoh, seseorang (muslim) tahu dan paham bahwa melihat film porno dilarang. Namun, tetap saja dia menikamti film itu. Dia tahu tapi dia tidak mengindahkan pengetahuannya tersebut. Hawa nafsulah yang mengontrol jalan pikirannya. Contoh lain, muslim yang berpacaran dengan non-muslim juga dilarang. Namun, masih ada saja mereka yang terjerembab dalam kasus ini. Mengapa? Ya, pikiran mereka buntu dan hanya mengandalkan hati dalam penyelesaian masalah. Dalam taraf ini, hati tak bisa dijadikan alat untuk memecahkan masalah.

Contoh lagi, Anda adalah orang yang mampu menjaga hati dan kehormatan Anda. Suatu ketika Anda merasa diri Anda kolot karena teman-teman Anda dengan bebas bisa berfoya-foya, berbicara kotor, hedon, bisa pergi ke klub malam, bergonta-ganti pasangan, berdekat-dekatan dengan lawan jenis, tidak menghormati orang lain, seakan mereka hidup enak dan selalu bersenang-senang. Sedangkan Anda adalah orang yang berkebalikan dengan semua itu. Anda merasa diri Anda suda ketinggalan jaman. Anda ingin seperti mereka. Apa yang Anda lakukan? Terpengaruhkah Anda? Jika Anda tidak kuat iman,hanya mengandalkan hati, dan tidak berpikir obyektif, saya jamin 99,99% Anda akan terpengaruh.

Solusinya?
Ingat, apapun kondisi dan situasinya, untuk menyelesaikan masalah, pijakan utamanya adalah benar dan salah, bukan bahagia atau tidak. Sehingga pertama kali yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah adalah berpikir ilmiah (obyektif). Setelah Anda menemukan jawabannya, barulah Anda menata hati Anda. Memang sulit untuk melawan hati dan melawan hawa nafsu. Di sinilah kemampuan memanajemen hati dan pikiran benar-benar diuji. Posisikan hati selalu di bawah sebuah kerasionalitasan. Sekali lagi, Memang sulit untuk meredam hawa nafsu kita. Namun, justru di situlah derajat Anda diuji. Semakin Anda mampu melawan hawa nafsu Anda, semakin Anda menjadi seseorang yang tampak sempurna di mata manusia lain dan derajat Anda ditinggikan oleh Sang Pencipta.

Kesimpulannya, hati (perasaan/hawa nafsu) bukanlah pencari solusi. Selalu pertama dan utamakan pikiran dalam pemecahan masalah. Kemudian, tata hati dan perasaan Anda. Solusi yang tepat senantiasa mengarah kepada kebahagiaan abadi. Ketika Anda mencari solusi dengan hati, Anda hanya akan mendapat kebahagiaan sesaat tanpa sedikitpun kebenaran di dalamnya. Jangan sampai Anda memilih kebahagiaan sesaat karena Anda tidak berpikir obyketif dan hanya mengandalkan perasaan.
Entah Anda sadar atau tidak, Anda dilahirkan di dunia ini atas dasar pertimbangan rasional Ibu Anda. Ibu Anda rela menderita sembilan bulan untuk mengandung dan memberikan yang terbaik bagi Anda. Andai saja, saat itu Ibu Anda berpikir dengan hati, niscaya beliau tidak akan mau mengandung Anda karena hal itu hanya akan membawa derita pada dirinya. Jika itu terjadi, Anda tidak akan terlahir di dunia ini. Anda tidak akan merasakan kasih sayangnya yang begitu besar kepada Anda. Anda tidak akan menikmati betapa orang-orang yang menyayangi kita senantiasa ada di samping kita dalam keadaan apapun.

Nah pembaca, akankah Anda tetap berpikir dengan hati dan mendapatkan kesenangan sesaat? Akankah Anda menuruti hawa nafsu Anda dan mencelakai diri Anda sendiri? Akankah Anda keukeuh melawan kebenaran demi sebuah kebahagiaan semu? Anda-lah yang dapat menjawab dan menetukan pilihan Anda

Advertisements

4 responses to “Manajemen Hati dan Pikiran

  1. kenapa aku gak pernah di tag ke blog mu yang ini ? —

    • tanpa di-tag kamu udah main-main ke blog-ku kan?
      next, let me tag you to my blog 🙂
      keep spirit ya!
      enjoy your life as I enjoy my life 🙂

    • tanpa di-tag kamu udah main-main ke blog-ku kan?
      next, let me tag you to my blog 🙂
      keep spirit ya!
      enjoy your life as I enjoy my life 🙂

  2. Pingback: Manajemen Pikiran dan Perasaan | Good Alakazam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s