Tribute to Yossy Marsunda Widyatama

Di pagi itu, nama seorang anak tiba-tiba tenar di sekolahku. Yossy. Begitulah teman-temanku menyebut anak itu. Teman-temanku membicarakan Yossy tiada hentinya. Aku jadi penasaran dengan anak ini. Usut punya usut, ternyata rumah anak ini seperumahan denganku. Bahkan, ibuku sering ke rumahnya untuk memotong rambut. Tapi, aku tak pernah sekalipun ke sana. Meskipun aku penasaran dengan anak ini, apa untungnya bagiku untuk ke rumahnya. Kujalani hari demi hari dengan tetap penasaran dengan anak ini.

Kini aku beranjak SMP. Tak disangka, Yossy bersekolah di tempat yang sama denganku. Tak disangka lagi, kami ditakdirkan untuk berada dalam satu kelas, kelas 7B. Rasa penasaranku yang masih belum hilang sejak dulu mulai memenuhi pikiranku. Kuperhatikan anak ini. Tampan, kulitnya putih sedikit kekuning-kuningan, tingginya selayaknya anak SMP, badannya cukup atletis, dan hidungnya mancung. Secara fisik, sangat cukup untuk membuat wanita tergila-gila kepadanya.

Di kelasku ada dua regu pramuka. Reguku bernama Menjangan dan pemimpin reguku adalah Yossy. Pertama kali dia menjadi pemipin regu (pinru), aku sempat meremehkannya. Kurasa anak ini tak bisa memimpin sebaik orang lain. Secara kualitas, ada beberapa syarat pemimpin yang tak dipunyai olehnya. Bagaimana tidak, di kelas saja dia sering usil, mencontek, membuat kegaduhan, dan mem-bully teman-teman lain. Namun, pikiran sempitku itu berubah drastis selama dia menjadi pinruku.

Yossy memang bukan orang serbabisa. Banyak hal yang tak bisa dilakukannya sendiri. Kelemahan itu rupanya dipahami benar olehnya. Sadar akan banyaknya hal yang tak dimilikinya, dia bisa dengan bebas mempercayakan banyak hal kepada anggotanya. Aku dan teman-teman lain sebagai anggota regu awalnya berpikiran bahwa dia percaya kepada kami karena dia tidak mampu. Namun, jika saja Yossy mampu, maka kami percaya bahwa kami tidak dibutuhkan di dalam regu. Jika Yossy mampu, kami percaya bahwa dia akan besar kepala dan tak menganggap kami. Syukurlah, Yossy tahu kekurangannya ini dan dia mempercayai kami akan hal-hal yang tak bisa dia lakukan. Sikapnya itu menjadi suatu pelajaran penting bagiku. Bahwasanya, pemimpin itu bukanlah orang yang selalu sempurna. Pemimpin adalah orang yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya mampu membuat anggotanya merasa berguna dan memberikan respek tinggi kepadannya.

Di awal perkenalan kami, Yossy sempat memberiku pelajaran berharga lainnya. Aku dan dia pergi ke rumah kakek-neneknya. Di sana kutemui teman-temannya sedang merokok, bertato, dan bercanda sambil mengucapkan kata-kata kotor. Tak hanya yang sudah remaja, yang masih seusia kami juga ada yang melakukan hal yang sama. Yossy menghampiriku dan memberikan ceramah pertamanya kepadaku. Di berkata bahwa kehidupan di sana lebih keras. Anak-anak di sini tak seperti anak-anak di perumahan yang mendapat cukup perhatian dari orang tuanya. Tapi, mereka semua di sini tak sampai melewati batas. Anak-anak di sini malah menjalin pertemanan yang kuat. Mereka akan saling bantu jika ada satu teman yang kesusahan. Well, itulah satu pelajaran menarik yang kudapatkan di sana.

Berawal dari penasaran, aku dan Yossy menjadi teman akrab. Kuceritakan padanya mengapa aku dulu penasaran dengannya. Kami sering bertukar cerita. Kuceritakan juga alasanku memilih SMP-ku yang sekarang ini ketika dia mengatakan bahwa aku bisa memilih SMP yang lebih bagus daripada SMP-ku ini. Sempat terucap satu kalimat yang menarik ketika aku bercerita perihal SMP ini.
“Yah, mau gimana lagi Yos. Belum rejekiku mungkin untuk sekolah di SMP sana. Tapi, tenang. Nanti pas SMA bakal aku kalahkan deh mereka. Hahaha”, celetukku sambil setengah bercanda.
“Percaya deh sob.”, balas Yossy.
Kalimat itu terucap begitu saja. Hingga suatu saat nanti aku menyadari bahwa kalimat itu menjadi salah satu kalimat terkuat dari Yossy untukku.

Kelas tujuh SMP aku habiskan dengan Yossy dan teman-teman lain. Banyak hal-hal lucu, unik, dan menyenangkan yang kami alami. Salah satunya adalah ketika regu pramuka kami berhasil menjadi regu pramuka terbaik tahun itu. Kami berhasil menjadi yang terbaik karena tiap orang berusaha semaksimal mungkin. Namun, kami sadar bahwa kami tak akan berusaha semaksimal mungkin jika tak didukung oleh kepercayaan yang luar biasa yang diberikan oleh pemimpin kami.

Sekarang aku dan Yossy berpisah. Kami sudah tidak sekelas lagi. Aku masuk di kelas 8B dan Yossy di kelas 8D. Meskipun terpisah, kami masih sering tegur sapa ketika mau masuk ataupun pulang sekolah. Sekali-kali kami berkumpul di kantin dan bercengkerama bersama. Namun, lambat laun frekuensi berkumpul kami jadi semakin jarang.

Semester pertama kelas delapan SMP telah kami lalui. Kini kami menginjak semester kedua. Berhembus kabar bahwa Yossy sekarang dekat dengan salah satu teman SD-ku. Dita namanya. Dita adalah anak tercantik di SMP-ku waktu itu. Tak sedikit teman-temanku, bahkan kakak kelasku, yang tertarik padanya. Aku dan Dita sudah sejak kelas enam SD berteman akrab. Rumah kami dekat. Kami sering berangkat pramuka bersama. Sepanjang perjalanan kami selalu bertukar cerita. Nah, kali ini aku bertanya kepada Dita. Kutanyakan apakah benar bahwa dia dekat dengan Yossy. Sambil tersipu malu dia menceritakan semuanya. Aku turut senang karena kini dua teman dekatku akan semakin dekat. Seorang lelaki tampan dan seorang wanita cantik. Sangat cocok.

Sabtu, 14 April 2007. Sore itu, seperti biasa, aku menunggu Dita untuk berangkat pramuka bersama-sama. Beberapa menit kemudian kami berangkat. Sepanjang perjalanan kami bersenda gurau dan bertanya-jawab.
“Nggak bareng Yossy aja nih Dit?”, tanyaku
“Nggak bro. Yossy gak masuk kayaknya. Tadi ketemu sih. Katanya mau kerumah kakeknya. Katanya gak bisa nganterin aku lagi. Mau pergi katanya”, jawabnya.

Minggu, 15 April 2007. Tak ada yang istimewa hari ini. Kuhabiskan hari itu dengan menonton TV. Menikmati film-film kartun yang saat itu masih menjamur di dunia pertelevisian hari Minggu. Tidak seperti acara TV sekarang. Hari Minggu dipenuhi acara-acara tidak jelas dan tidak mendidik. Ketika hari sudah mulai malam, aku tidur agar esoknya dapat bersekolah dengan bugar.

Senin, 16 April 2007. Aku bangun dari tidurku. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku bersiap diri. Kupakai seragamku dengan rapi. Setelah kurapikan seragamku, kini kusisir rambutku. Aku menyisir rambutku sambil menggumam sedikit bernyanyi. Di sela-sela kegiatan menyisir, tiba-tiba suara pengeras suara Mushola di depan rumahku berbunyi. Ini adalah tanda-tanda akan adanya berita atau pemberitahuan penting. Aku penasaran ada berita apa gerangan. Tak lama kemudian rasa penasaranku terjawab.
‘Berita duka. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia, saudara Yossy dari blok V pada hari Sabtu, 14 April 2007. Pemakaman akan dilakukan hari ini. Bagi warga yang ingin melayat, dipersilakan untuk ke rumah duka hari ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan oleh Allah SWT.’
Ya, rasa penasaranku memang hilang. Tapi seketika itu juga rasa sedihku meluap. Sekujur tubuhku lemas seketika. Aku berteriak dan menjerit. Aku ingin menangis tapi air mataku tak juga keluar. Aku terdiam beberapa saat sebelum ibuku menghampiriku dan menguatkan aku. Sarapan yang sudah dihidangkan pagi itu tak kusentuh. Aku berangkat ke sekolah dengan pikiran kosong. Sesampai di sekolah tak kuucapkan sepatah katapun. Teman-teman lain heran melihat sikapku. Mereka mencoba bertanya tapi aku tak menjawab. Aku masih saja diam. Seakan mulut ini tak mau berbicara. Hingga beberapa saat kemudian, pengeras suara sekolah mengumumkan hal yang sama dengan yang kudengar dari pengeras suara Mushola depan rumahku. Seketika itu juga tangis dan airmata membasahi SMP-ku. Teman-teman sekelasku menjerit dan menangis. Tak pernah sekolahku menjadi seramai pagi itu karena tangisan. Kegiatan belajar mengajar di pagi itu ditiadakan. Teman-temanku bergegas ke rumah Yossy. Aku masih terdiam di ruang kelas. Tak bergerak sedikitpun. Sekujur tubuhku masih lemas. Ingatanku dipenuhi kenanganku dengan Yossy. Aku tak ikut ke rumah Yossy. Aku juga tak di sana ketika pemakamannya berlangsung. Itu menjadi salah satu penyesalan terbesarku. Aku tak kuasa melawan tubuhku yang lemas dan pikiranku yang tak bisa kukendalikan hingga aku tak bisa menghadiri pemakaman teman baikku. Hari itu berubah menjadi hari kelam bagiku. Hari yang seharusnya menjadi hari baik malah berubah 180 derajat. Sebuah berita yang tak pernah kuinginkan datang dan merusak hari itu.

Kesedihanku tak juga hilang keesokan harinya. Aku masih tak percaya. Namun, ada satu anak yang kesedihannya melebihi kesedihanku. Ya, dia adalah Dita. Dita menangis sepanjang hari. Tiga hari dia tidak keluar dari kamarnya. Tiga hari dia menangis sambil mengingat Yossy. Kami semua bersedih. Kami semua kehilangan. Kami semua tak percaya. Tak disangka ternyata pesannya kepada Dita di hari Sabtu kemarin adalah pesan perpisahannya kepada Dita dan kami semua. Tak disangka bahwa dia akan meninggalkan kami. Aku dan dia memang belum sampai dua tahun berteman. Tapi, dalam waktu singkat itu, tak dapat dipungkiri bahwa dia memberiku banyak sekali pelajaran berharga yang tak dapat kutuliskan di sini satu per satu. Dalam waktu singkat itu, tak dapat dipungkiri bahwa dia adalah salah satu teman terbaikku. Teman terbaik kami semua.

Aku dan teman-teman penasaran dengan penyebab kematian Yossy. Kami mencari tahu. Dan, kabar lebih buruk datang. Yossy meninggal karena dibunuh. Dibunuh. Dibunuh. Seketika itu juga aku marah. Seketika itu juga aku menyimpan dendam. Dari kecil hingga saat itu, tak pernah aku semarah itu. Ingin rasanya membalas dendam. Ingin rasanya membunuh. Pikiranku kacau balau waktu itu. Hanya sedih, amarah dan dendam yang menyelimuti pikiranku. Aku tidak terima dengan kenyataan pahit itu.

Beberapa waktu telah berlalu. Ibuku baru saja pulang dari rumah Yossy. Ibuku bercerita banyak saat itu. Ibuku bercerita tentang aku di mata Yossy. Yossy sangat dekat dengan mamanya. Dia menceritakan banyak hal kepada mamanya. Termasuk tentang aku. Dia bercerita kelebihan dan kekuranganku. Dia bercerita bagaimana tekadku untuk tak mau kalah dengan anak SMP lain, terutama dari anak SMP kota. Dia bercerita bahwa dia sangat percaya kepadaku dan kemampuanku. Dia bercerita bahwa dia percaya kalau aku bisa mengalahkan anak SMP lain seperti saat aku berjanji (dengan sedikit bercanda) kepadanya ketika kami masih kelas 7 SMP. Semua hal tentangku diceritakan kepada mamanya. Mamanya kemudian menceritakan semua itu kepada ibuku dan ibuku menceritakan itu semua kepadaku.

Tak pernah kudapatkan rasa percaya yang begitu besar. Bahkan, ketika Yossy telah tiada, dia masih mempercayai aku dan teman-teman lainnya. Kepercayaan itu, tekad itu, dan semua yang ditinggalkan Yossy kepada kami, masih kami pegang. Kelak di kemudian hari benar-benar kubuktikan kepadanya kalau aku berhasil mengalahkan hampir semua (kalau tidak bisa/boleh dibilang semua) anak SMP lain itu. Saat lulus SMA, jika saja kami bisa bertemu, ingin sekali kukatakan bahwa telah kupenuhi janjiku padamu. Telah kupenuhi perbincangan kecil yang menjadi salah satu semangatku ketika SMA. Namun, sayang kau tak disampingku ketika itu, kawan. Kau tak disampingku ketika aku berhasil kala itu, kawan. Masih kuingat ketika wisuda madya SMA, aku mencoba mencarimu di sekelilingku, sambil berharap bahwa aku bisa melihat senyummu dan berkata “Kamu berhasil, sob!”. Namun, itu semua tak kudapatkan, kawan. Aku hanya bisa berharap bahwa kau melihatku waktu itu. Melihatku memenuhi janjiku padamu.

Tujuh tahun telah berlalu sejak kematianmu. Kau dan aku hanya saling mengenal selama tidak lebih dari dua tahun. Tapi, dalam waktu yang singkat itu kau mengajarkan banyak hal kepadaku. Tidak bisa tidak, kau adalah salah satu sahabat terbaikku, kawan. Seorang sahabat yang terus akan kukenang sepanjang hidupku.

Masih banyak hal yang ingin kuungkapkan, kawan. Tapi, tulisan tak mampu mengungkapkan hal-hal yang ada di pikiran dan hatiku, kawan. Semoga engkau tenang di alam sana, kawan. Semoga Tuhan menghapus dosa-dosamu, kawan. Semoga Tuhan memberi tempat yang terbaik untukmu, kawan. Selamat tinggal, kawan baikku, Yossy Marsunda Widyatama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s