Passion

Seorang anak SMA datang ke sekolahnya dengan wajah yang sangat bahagia. Dengan santai dia memarkir sepeda dan berjalan menuju kelas sambil membawa pohon kecil yang tadinya berada di keranjang sepeda miliknya. Ekspresi wajahnya masih tetap bahagia dengan diiringi senyum kecil dan wajah optimis yang membara. Terlihat dari wajahnya bahwa hidupnya begitu bahagia, begitu indah.

Tepat di depan kelas, dia letakkan pohon kecil itu. Dia menggali tanah di sekitar dia berdiri. Ditanamnya pohon kecil itu kemudian diberi air sedayung. Kebiasaan ini dilakukannya hampir tiap minggu. Jika dia tidak membawa pohon kecil untuk ditanam, dia merawat pohon-pohon lain yang ada di lingkungan sekolahnya. Baginya, hal itu menjadi kesenangan tersendiri, yang mungkin orang lain tidak dapat memahaminya. Teman-temannya banyak yang menyukai hobinya itu. Bahkan, beberapa anak terkadang membantunya merawat tanaman di sekolah. Tapi, ada juga yang heran.

Kecintaannya terhadap pohon dan tanaman lainnya memang melebihi semua murid di sekolahnya. Rumahnya begitu asri dengan tanaman-tanaman hias sebagai pagar rumahnya. Dia merawat semua tanamannya layaknya merawat dirinya sendiri.

“Mengapa kamu begitu suka terhadap tanaman?”, tanya salah satu temannya.“Aku sendiri tidak memiliki alasan khusus. Aku hanya merasa menanam pohon itu menyenangkan. Mungkin juga bermanfaat. Yang jelas, aku senang melakukannya. Tak ada rasa terpaksa sedikitpun ketika aku melakukannya”, jawab anak itu.
“Sampai kapan kamu akan melakukan hobimu ini? Apa kamu tidak punya hobi lain?”
“Sampai aku tua. Sampai aku tak sanggup lagi menanam dan merawat tanaman. Aku tidak punya jawaban lain untuk pertanyaanmu itu, kawan. Aku menyukai apa yang aku lakukan dan aku tak tahu kapan aku akan berhenti”
“Sepertinya kamu terobsesi dengan tanaman ya?”
“Bukan terobsesi. Aku hanya menyukai apa yang aku lakukan. Aku menikmati apa yang aku lakukan”
“Ngomong-ngomong, kamu punya cita-cita?”
“Hmm… cita-citaku adalah aku ingin menanam dan merawat tanaman di sekitarku”
“Hah? Serius? Kamu tidak ingin jadi dokter, pengacara, atau pilot?”
“Hahahaha. Itu bukan bidangku kawan. Kalaupun aku menjadi ahli di salah satu dari profesi yang kau sebutkan tadi, aku pasti akan menjadi ahli yang sangat buruk di profesi itu. Minat dan kemauanku ada pada tanaman. Passionku ada pada tanaman. Apa salahnya menjadi orang yang suka menanam dan merawat pohon?”
“Tidak ada sih. Tapi kau tidak akan mendapat banyak uang, kau tidak akan sesukses orang lain”
“Lalu kenapa? Memangnya kenapa kalau aku tidak mendapatkan banyak uang? Apakah aku akan sengsara? Tidak. Aku akan bahagia karena apa yang aku lakukan benar-benar dari hati. Benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan. Bukankah aku akan lebih sengsara jika aku menjadi dokter tetapi aku tidak ahli? Aku bisa saja membunuh pasienku. Bukankah aku akan lebih sengsara jika aku menjadi pengacara? Aku bisa saja membela orang yang salah. Aku tidak mau sengsara seperti itu. Memangnya kenapa kalau uangku sedikit? Asal aku menjalani hidupku dengan bahagia, bukankah itu sudah menjadi sebuah kebahagiaan besar?”
“Tapi kau tidak akan mendapatkan apa-apa dan hal yang kau lakukan akan banyak yang sia-sia”
“Mungkin kau benar. Di kehidupan, memang banyak hal yang tidak membuahkan hasil. Tapi aku tidak mengharapkan hasilnya sekarang. Mungkin kelak ketika aku sudah tua aku baru mendapatkan hasilnya. Mungkin juga kelak ketika raga dan jiwaku berpisah aku baru mendapatkan hasilnya. Mungkin juga tak pernah kucapai hasil dari usahaku. Hal itu tidak menjadi masalah buatku. Seperti kubilang tadi, aku menanam dan merawat tanaman karena itulah passionku. Sepertinya kau perlu membaca kisah Elzéard Bouffier. Darinya aku mulai menyukai tanaman. Darinya aku belajar bahwa terkadang hasil jerih payah kita tak dapat kita nikmati saat itu juga.”
“Tapi…………….”
“Ah sudahlah. Aku tahu kau heran dengan hobi dan passionku. Aku hanya ingin melakukan apa yang memang aku inginkan. Aku ingin melakukan hal yang memang benar-benar dari hati. Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nurani. Toh, apa yang aku lakukan tidak menyalahi hokum dan norma. Dunia ini sudah penuh dengan orang yang melakukan hal hanya untuk sekadar membuat perut mereka buncit, membuat mereka tampak glamor dengan pakaian-pakaian mahal, membuat mereka tampak berkuasa dengan dasi dan jas. Mereka mendapatkan itu semua bukan karena passion mereka, bukan dari hati mereka. Kau mungkin menilai mereka sukses. Tapi buatku mereka adalah orang yang benar-benar gagal. Tak sadarkah kau bahwa mereka susah-susah kuliah di jurusan bisnis tapi bekerja sebagai anggota legislatif? Tak heran jika di sana mereka hanya berpikir soal bisnis ini dan bisnis itu hanya untuk membuncitkan perut mereka. Bukankah mereka orang yang terlihat jelas gagal? Padahal, legislatif membutuhkan orang yang benar-benar memahami politik, memahami isi hati rakyat, dan mau memperjuangkan nasib rakyat. Bukan mereka yang hanya sekadar menginginkan uang lalu dengan bebas duduk di sana dan mengambil kembali modal mereka dengan cara mereka sendiri. Apakah seperti itu yang kau bilang sukses? Kawan, andai saja dulu teman Einstein menyuruh Einstein untuk menekuni sepak bola daripada sains, mungkin sekarang kita tidak bisa memahami indahnya alam ini melalui penemuan-penemuannya. Nah, sekarang ada seorang teman mencoba membujukku untuk menyukai hal lain. Jika saja kutekuni dan aku gagal serta tidak bahagia, maukah kau bertanggungjawab? Aku akan mengutukmu jika aku gagal karena kau telah membawaku ke dunia di mana jiwaku tak ada di sana. Jika aku mengikuti passionku, walaupun aku gagal, setidaknya aku masih bisa bahagia. Setidaknya tidak ada orang yang aku salahkan karena ini adalah pilihanku sendiri. Aku tidak bermaksud menolak nasehatmu. Aku hanya mencoba meyakinkanmu bahwa aku telah memilih jalan hidup yang indah dan bahagia. Kau paham, kawan?”

Well, tulisan ini sebenarnya sebuah hadiah ulang tahun untuk The Twins. Selamat ulang tahun, The Twins. Tak lama lagi sepertinya kalian akan menghadapi masa-masa sulit di hidup kalian. Sulit? Ya, karena kalian harus menentukan ingin jadi apa kalian nantinya. Just follow your passion, The Twins 🙂

Inspired by: 3 Idiots dan Elzéard Bouffier.
Note: The Twins’ sister, you should let your sisters watch the movies 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s