Rantai Kebaikan

“Banguuun… Banguuun… Banguuun… Sudah jam setengah enam. Sampai kapan mau tiduran? Cepat mandi terus sarapan. Jangan sampai telat sekolah”, teriak ibuku.

Mataku sayup-sayup terbuka. Sedetik kemudian tertutup lagi, sedetik kemudian sayup-sayup terbuka lagi. Angin dari kipas yang bertiup ke arahku malah mendorongku untuk tetap di kasur. Tak sampai lima menit, ibuku datang lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang, diteriakkannya kalimat yang sama persis seperti yang kudengar tadi.

Tak ingin mendengar “ceramah pagi” dari ibuku, aku bergegas ke kamar mandi. Kubersihkan badan lusuhku kemudian kulahap nasi goreng yang sudah menanti di meja makan. Tak lama kemudian handphone-ku bergetar. Kubaca pesan masuk yang baru saja mendarat di HP-ku.

Bro, aku boleh nebeng ke sekolah gak?

Begitulah pesan dari temanku. “Ah, kenapa harus perempuan ini sih yang nebeng?”, pikirku dalam hati. “Kenapa bukan Vina saja?”, lanjutku. Vina adalah gadis cantik dari desa sebelah. Tiap pagi kulihat Vina berdiri di depan rumahnya. Dia menunggu jemputan dari temannya yang sudah pasti bukan aku. Andai saja aku punya satu kesempatan untuk menjemputnya dan berangkat sekolah bersama. Andai saja.

Belum selesai imajinasiku membonceng Vina, ibuku sudah menyuruhku berangkat sekolah. Wajar saja ibuku menyuruhku bergegas berangkat karena jarak rumah dengan sekolahku sekitar dua belas kilometer. Mengenai pesan temanku tadi, aku terima permintaan tolongnya. Tak ada salahnya juga membantu teman. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan temanku ini, tapi ah sudahlah. Kata orang bijak, membantu harus ikhlas, tak peduli siapapun orang yang dibantu.

Tak sampai lima menit aku sudah sampai di pertigaan tempat temanku menungguku. Sejurus kemudian dia sudah berada di jok motor bagian belakang. Sejurus itu pula motorku melaju meninggalkan pertigaan. Jalanan cukup ramai waktu itu. Aku tak berani mengebut agar tak celaka. Apalagi aku membonceng anak orang. Kalau ada apa-apa, aku harus bertanggung jawab ke orangtuanya. Selama sepuluh sampai lima belas menit perjalanan dia bercerita padaku tentang alasannya memintaku memboncengnya.

Tersudut. Itulah perasaanku saat itu. Bagaimana tidak? Ceritanya cukup membuatku berempati. Mungkin cerita yang kudengar tadi sudah sering ditampilkan di televisi. Tapi, buatku yang mendengar langsung, cerita fiktif di televisi seolah menjadi nyata. Entahlah, ceritanya cukup membuat beberapa syarafku menjerit.

Di pertigaan aku melihat wajah murung yang menahan tangis. Awalnya aku tak mempedulikan wajah itu karena kupikir tak ada hubungannya denganku. Aku berhenti di depannya. Sambil menahan isak tangis, dia naik ke motorku.

“Aku nebeng karena terpaksa”, ucapnya mengawali ceritanya.
“Tadi aku dimarahin sama ibuku. Dibentak. Dipukul. Bangun pagi dibentak. Mandi masih juga dibentak. Di kamar mandi aku nangis sepuas-puasnya. Aku gak kuat. Tiap hari kayak gini. Disiksa sama ibu sendiri. Kayak ibuku gak sayang banget sama aku. Kayak ibuku gak ingin aku di rumah. Senyum aja gak pernah. Tiap hari kayak gitu. Aku gak kuat.”, lanjutnya sambil menitikkan air mata.
“Tiap pulang sekolah gak pernah dipedulikan. Mau berangkat sekolah dimarahin. Bajuku sampai sobek gara-gara ditarik ibuku. Apa aku ini anak yang gak berguna? Apa aku ini anak yang merepotkan? Aku ingin dikasihi sama ibuku sendiri. Aku ingin dimanja kayak teman-temanku lainnya. Aku pengen banget. Tapi aku gak pernah dapat yang kayak gitu. Uang saku aja udah gak pernah dikasi. Di sekolah aku cuma bisa diam melihat teman-teman yang lain beli jajan. Sedih. Aku gak tau lagi harus cerita ke siapa.”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata yang bisa menenangkan dirinya. Tak juga bisa mengeluarkan kata-kata bijak untuknya. Aku cuma bisa membayangkan betapa hidupnya menderita kalau seperti itu. Dalam hati aku berkata untung saja aku masih memiliki ibu yang begitu menyayangiku. Tak bisa kubayangkan aku hidup dalam penjara mental sepertinya. Sepanjang perjalanan, tak hentinya aku bersyukur akan karunia-Nya. Tak lupa berdo’a untuk teman yang sedang berada di belakangku itu agar dia diberi kekuatan oleh-Nya.

Tak terasa kami sudah sampai di depan sekolahnya. Dia turun sambil mengusap air matanya. Masih terlihat raut wajah depresi yang amat mengerikan itu. Kuberi dia sebagian uang jajanku. Kupikir dia lebih membutuhkan uang itu. Walaupun cuma sedikit, aku harap uang itu mampu membawa pulang senyuman yang hilang dari temanku itu. Perlahan, wajah itu memancarkan cahaya yang sedikit menyejukkan hati. Ucapan terima kasihnya kala itu terdengar merdu. Udara sejuk mengiringi perjalanan perkataan tulus itu dari mulutnya ke ruang bebas. Aku pun melanjutkan perjalanan ke sekolahku.

*****

Sore itu mendung gelap menyelimuti langit sekolahku. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Cukup sore bagiku untuk berada di sekolah. Tak ingin kehujanan, aku mengambil sepeda motorku dan meninggalkan sekolah. Baru 300 meter dari sekolah, hujan turun tanpa diundang. Aku yang tak membawa jas hujan terpaksa berhenti di depan toko di dekat perempatan.

Seorang anak seusiaku menghampiriku. Dia berlari dari arah sekolahku dan berteduh bersamaku. Karena sifat dasarku yang cuek, aku diam saja sambil berharap hujan akan segera berhenti. Baru saja beberapa detik kami berteduh, anak itu mengajakku bicara.

“Sekolah mana mas?”, tanya anak itu.
“Di SMA setelah lapangan mas kalo dari sini.”, jawabku.
“Owalah. Deket mas. Saya sekolah di MA sebelahnya. Kenal Dedy mas?”
“Dedy yang mana mas?”
“Anak kota sebelah. Kulitnya agak gelap.”
“Ooo saya tahu mas. Teman saya satu ekskul.”
“Saya teman SMP nya mas. Tunggu sebentar ya mas.”

Tunggu sebentar? Apa maksud anak itu? Tiba-tiba saja dia menyelinap di pinggir toko dan dalam sekejap hilang dari pandanganku. Mungkin anak itu kembali ke kos-nya. Aku tetap berada di tempat itu sambil menunggu hujan segera reda. Tapi alam berkata lain. Hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Yah, sepertinya aku harus tetap berada di sini sampai malam.

Kudengar langkah kaki memijak tanah yang basah dari belakang. Anak itu kembali ke tempatku berada sekarang. Di tangannya terlipat rapi sebuah jas hujan. Diulurkan tangannya ke arahku.

“Pakai ini aja mas biar bisa segera pulang. Kayaknya mas buru-buru. Rumahnya pasti jauh.”, tawarnya.
“Gak usah deh mas. Saya tunggu di sini aja.”, jawabku.
“Gak apa-apa mas. Gak usah sungkan. Pakai aja. Gak usah khawatir masalah ngembaliin jas hujannya. Titipin ke Dedy aja nanti saya ambil ke Dedy.”
“Beneran mas?”
“Iya mas. Pakai aja.”

Kuterima jas hujan itu lalu kukenakan. Kuhidupkan mesin sepeda motorku dan berpamitan ke anak itu. Dalam sekejap anak itu sudah tidak ada di tempatku berteduh tadi. Mungkin dia kembali ke kos-nya lagi. Di bawah guyuran hujan deras, aku ucapkan rasa syukur dan terima kasih sebesar-besarnya untuk anak itu. Aku tidak mengenalnya. Bahkan dalam percakapan kami, kami belum sempat memperkenalkan diri. Tanpa tahu siapa namaku, tanpa tahu asal usulku, tanpa ada jaminan aku akan mengembalikan jas hujannya, anak itu dengan sukarela meminjamkan jas hujannya kepadaku. Sungguh indah dunia ini jika dipenuhi oleh orang-orang sepertinya.

Sejenak aku teringat kejadian kala aku membonceng temanku. Mungkin anak itu ditakdirkan untuk membalas jasaku kepada temanku. Mungkinkah…..

Ah, betapa indahnya hidup ini jika setiap orang mau saling membantu tanpa pamrih. Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orang melakukan minimal satu kebaikan setiap saat. Alangkah kuatnya rantai kebaikan yang akan terjalin. Jika satu kebaikan seseorang akan dibalas oleh satu kebaikan dari orang lain, alangkah kokohnya karang kebaikan yang melindungi manusia dari sifat buruknya.

Bukankah hidup seperti ini yang kita idamkan? Bukankah hidup tanpa pamrih dan tanpa prasangka buruk seperti ini yang kita dambakan? Bukankah seharusnya kita sadar bahwa kita bisa memperindah hidup kita dimulai dari diri kita sendiri?
Betapa indahnya masa depan seperti itu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s