NLC, PSDM, Tiga Koma Lima

NLC, PSDM, dan tiga koma lima adalah target saya ketika saya masih menjadi mahasiswa baru di kampus saya. Saya mengenal NLC untuk pertama kalinya ketika saya masih SMA. Saya pernah mengikuti kegiatan ini saat saya kelas IX SMA. PSDM saya kenal ketika saya menjadi mahasiswa baru di kampus. Tiga koma lima (3,5) saya kenal pertama kali juga ketika saya menjadi mahasiswa baru di kampus. Tiga hal itu cukup mewarnai angan saya ketika masih menjadi mahasiswa baru. Tiga hal itu menjadi sebuah target bagi saya selama menjalani kuliah di kampus saya. Melalui blog ini, saya ingin berbagi sedikit cerita mengenai tiga target saya tadi.

National Logic Competition atau biasa disingkat NLC adalah sebuah lomba logika tingkat nasional yang diadakan oleh Schematics HMTC ITS setiap tahun. NLC merupakan lomba yang unik bagi saya karena materi yang dilombakan tidak diajarkan di TK, SD, SMP, maupun SMA (atau yang sederajat). Bayangkan saja, soal-soal NLC bukanlah soal fisika, matematika, kimia, atau pengetahuan sosial yang sewajarnya diajarkan di sekolah. Soal-soal NLC mengasah peserta untuk menggunakan logika. Mulai dari logika yang mudah sampai yang susah. Mulai dari logika yang terpikir jelas sampai yang mustahil. Nah, disitulah saya menemukan keunikan perlombaan ini.

Sewaktu saya SMA dulu, saya berjanji kalau saya diterima di jurusan yang mengadakan NLC, saya akan menjadi salah satu panitianya. Alhamdulillah, setelah melewati serangkaian proses seleksi, saya diterima di jurusan yang saya impikan. Saat-saat menepati janji-pun semakin dekat. Di akhir tahun pertama, saya mendapat kesempatan untuk menjadi panitia NLC. Salah satu janji saya terpenuhi. Di tahun itu, atas berkat rahmat Allah SWT, NLC sukses dilaksanakan.

Tahun berikutnya, saya mendapat amanah dari ketua Schematics untuk mengepalai divisi NLC. Awalnya saya ragu, tetapi setelah memohon petunjuk dan meyakinkan diri, saya menerima amanah itu. Pada kesempatan itu, NLC diberi panitia sejumlah 24 orang, termasuk saya. Jumlah yang cukup sedikit untuk lomba bertaraf nasional.

Di sini saya merasakan asas kekeluargaan yang disanjung tinggi di kampus saya. Di NLC, saya tidak merasakan bahwa saya adalah seorang yang bekerja sendiri. Di sana saya terbantu sekali dengan panitia NLC lainnya. Saya juga mendapat panggilan baru. Papa. Panggilan itu berasal dari salah satu ‘anak’ (baca: staff) saya. Well, saya tidak mempermasalahkan panggilan itu. Waktu SMA dulu, saya juga pernah mendapat panggilan baru ketika mengetuai sebuah eksul. Mas Bos atau Pak Bos. Begitulah teman-teman saya satu ekskul memanggil kala itu. Panggilan yang sampai sekarang masih sering saya dengar apabila sedang bersendagurau bersama teman-teman SMA. Panggilan baru, ‘papa’, bagi saya adalah sebuah bukti betapa asas kekeluargaan tercipta di NLC waktu itu.

Harus saya akui, NLC waktu itu adalah kepanitiaan terbaik yang pernah saya jalani hingga saya menulis tulisan ini. Jika di luar sana banyak anggota kepanitiaan yang tidak bekerja, di NLC saya tidak mendapati itu. 23 panitia/staff yang saya miliki waktu itu benar-benar luar biasa. Mereka benar-benar melebihi kualitas kepanitiaan ketika saya mengetuai ekskul di SMA dulu.

NLC tahun itu sukses besar. Sebanyak lebih dari 1500 tim (1 tim maksimal 3 orang) dari berbagai daerah bergabung dengan NLC. Usaha dan tenaga panitia NLC dan panitia Schematics lainnya benar-benar terkuras habis kala babak penyisihan dan babak final. Namun, saya yakin satu hal. Usaha dan tenaga mereka tak akan terbuang sia-sia. Sebagai gantinya, mereka mendapat ‘keluarga’ dan pengalaman yang luar biasa.

***

PSDM adalah salah satu departemen HMTC, sebuah himpunan di kampus saya. PSDM seharusnya mengurusi masalah sumberdaya dan mahasiswa. Karena sejak SMP saya suka dengan psikologi dan tingkah laku manusia, saya ingin masuk ke departemen itu. Alhamdulillah, di awal tahun kedua kuliah, saya diterima di departemen PSDM. Satu lagi target saya tercapai.

Berbeda dengan NLC dimana saya benar-benar mengikuti passion, di PSDM saya sedikit merasa salah jalur. Awalnya saya kira PSDM akan penuh dengan analisa psikologi atau analisa tingkah laku manusia. Namun, setelah berlangsung sekian lama, saya kurang mendapati angan saya itu. Padahal, di departemen ini saya ingin mengasah lebih jauh kemampuan analisa saya. Kemampuan yang saya yakin saat ini sudah jauh menurun daripada saat SMA dulu.

Di tahun ketiga, saya baru sadar. Kemampuan yang ingin saya asah, kemampuan yang ingin saya kembangkan ternyata sebenarnya saya lakukan kala itu. Ternyata, secara tidak sadar saya menganalisa teman-teman sesama PSDM. Hasil analisa ini baru saya sadari di tahun ketiga ketika saya dan beberapa dari mereka bergabung ke tim konseptor.

Memang cara pengajarannya berbeda. Di SMA dulu saya biasa menjadualkan seminggu atau dua minggu sekali untuk menganalisis kasus bersama ‘tim analisa’. Tim analisa waktu itu benar-benar luar biasa. Mereka mampu menganalisa dengan tepat dan menentukan langkah pencegahan serta langkah penanggulangan terhadap suatu masalah. Dari sana saya banyak belajar mengenai psikologi dan analisa tingkah laku serta sedikit strategi politik. Di PSDM tidak demikian. Secara implisit, semua itu diberikan. Hanya saja, kurang arahan khusus sehingga kesannya tidak diberikan. Well, apapun yang telah terjadi, PSDM memberikan beberapa pengalaman dan pelajaran berharga bagi saya. Bahkan, saya tidak merasa rugi telah berada di departemen itu.

Ada suatu quote yang saya ingat. “Mengabdi bukanlah memaksa mendapatkan keinginan. Mengabdi adalah memberikan tanpa mengharap imbalan.” Jadi, tak perlu saya merasa rugi. Tak perlu juga merasa sia-sia.

***

Tiga koma lima. Target ini hanya dapat saya capai di atas tahun ketiga. Tiga koma lima adalah jumlah waktu yang akan saya habiskan di kampus alias batas waktu maksimal saya berada di kampus. Dengan kata lain, saya akan lulus 3,5 tahun. Begitulah angan saya waktu saya masih menjadi mahasiswa baru.

Seiring berjalannya waktu, saya mengubah target. 3,5 bukan lagi target saya. Saat ini, saya ingin lulus normal. 4 tahun. Tepat 4 tahun. Tidak kurang, tidak lebih. Awalnya saya berpikir lulus 3,5 tahun itu keren. Memang keren. Saya tidak menolak anggapan itu sampai sekarang. Namun, saya rasa ada yang kurang jika saya lulus 3,5 tahun. Euforia.

Saya sudah berkali-kali melihat acara wisuda di kampus saya. Satu hal yang saya perhatikan. Wisuda di angka ganjil (3,5) selalu terlihat jauh lebih sepi dibanding wisuda di angka genap (4). Dari sini saya merasa jika saya lulus 3,5, mungkin wisuda saya nanti bakal sepi. Jika saya lulus 4 tahun, pasti wisudanya bakal ramai. Simpel memang. Bahkan terkesan kekanak-kanakan. Tapi, bagi saya, tak apalah saya tunda setengah tahun demi mendapatkan euforia bersama teman-teman seangkatan saya. Teman-teman yang berjuang bersama di kampus yang kata orang Iso Turu Sangar.

Namun, bukan berarti saya tak mau lulus 3,5 tahun. Saya mau dan saya siap habis-habisan, asalkan ada alasan yang lebih kuat dibandingkan alasan kekanak-kanakan saya. Salah satu alasan yang mungkin saya gunakan adalah karena mulai semester depan jurusan saya tidak buka 24 jam perhari, 7 hari perminggu. Atau mungkin nanti saya memiliki alasan lain yang jauh lebih kuat. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s