Ini Bukan Tentang Duniamu, Ini Tentang Duniaku

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Semarang. Di sana saya berkunjung ke sahabat yang cukup lama tidak saya jumpai. Singkat cerita, tak sampai 24 jam saya di sana sudah cukup bagi saya untuk melepas rindu bersama sahabat saya.

Semarang, kota yang biasa saya lewati ketika pulang kota waktu musim mudik, menjadi tempat terindah kala itu untuk bercengkerama. Di kota itu juga, saya mendapatkan pengalaman menarik. Saya, yang notabene baru pertama berkunjung ke Semarang, tiba-tiba saja disapa akrab dan dikenal oleh teman sahabat saya. Usut punya usut, dia mengenal saya karena sistem yang saya kembangkan untuk keperluan Senat Fakultas di universitas sahabat saya. Cukup bangga, juga cukup tersipu. Hehehe.

Malam itu saya dan sahabat menghabiskan waktu berkeliling kota Semarang. Beberapa tempat terkenal kami datangi dan kami abadikan momen kami di sana. Ada satu hal menarik ketika kami mencoba meminta tolong orang lain (Rahmat) untuk memfoto kami berdua.

Rahmat: “Masih kuliah, mas?”
Saya: “Iya, mas”
Rahmat: “Jurusan apa, mas?”
Saya: “Teknik Informatika, mas.”
Rahmat: heran dan kaget sejenak. “Wah hebat, mas.”
Saya: “Lha teman saya ini malah anak Kedokteran Umum, mas”
Rahmat: heran dan kaget tapi tidak sejenak sembari memandangi kami berdua dengan wajah kagetnya itu.

Rahmat kaget begitu saja mengetahui jurusan kami berdua. Yah, mungkin karena di Indonesia, jurusan kami mendapatkan prestis yang cukup tinggi. Padahal, bagi kami berdua, jurusan kami sama halnya dengan jurusan lain. Jurusan kami adalah jalan hidup yang kami pilih.

Tak terasa larut malam tiba dan kami harus segera kembali. Di kamar kos, kami berdua masih saja bertukar cerita satu sama lain. Mulai dari masalah kuliah, teman, jodoh, kesehatan, organisasi, hingga piala dunia 2014.

Ada yang menarik ketika kami bertukar cerita tentang perkuliahan. Kami adalah orang yang menikmati kuliah kami. Kami adalah orang yang menemukan dunia kami di perkuliahan. Teman saya berkata kira-kira seperti ini,

“Aku bisa melihat perbedaan tatapan mata orang yang menikmati kuliah dan tidak, kamu jelas sangat menikmati kuliah”

Sahabat saya memilih Kedokteran Umum awalnya bukan karena pilihannya sendiri. Orang tuanya lah yang menyuruhnya kuliah di Kedokteran Umum. Sahabat saya ini memang anak yang penurut kepada orang tuanya, tetapi bukan penurut buta alias sekadar menurut tanpa tahu kebaikannya. Dia bercerita kalau dulu sempat mendaftar di sepuluh universitas dan delapan atau sembilan diantaranya menerima sahabat saya ini, bahkan ada yang memberikan beasiswa penuh. Namun, berkat orang tuanya, dengan segala kebaikan yang dimiliki, sahabat saya memilih Kedokteran Umum (KU) untuk menimba ilmu.

Di KU, sahabat saya benar-benar menikmati hidupnya. Walaupun hampir selalu tidur ketika kelas berlangsung, tapi prestasinya sangat luar biasa. Perpaduan metode hafalan dan logika yang ada di jurusan kedoteran sangat cocok dengan sahabat saya. Tidak hanya itu saja, kemampuan softskill-nya juga meningkat pesat. Dari bendahara ekskul komputer di SMA, kini menjadi pimpinan tertinggi di senat fakultas. Mungkin karena dia mendapatkan kepintaran yang lebih, tapi menurut saya, kenyamanannya di jurusan itu lebih berperan terhadap prestasinya. Saya mendapati beberapa teman yang tingkat kepintarannya di atas saya tapi kurang berprestasi karena saya melihat mereka kurang nyaman dengan kuliahnya. Saya turut senang akan sahabat saya ini. Saya senang melihat sinar mata gembira yang jarang sekali saya lihat di teman-teman saya.

Berbeda alasan dengan sahabat saya, saya memilih jurusan berdasarkan apa yang saya inginkan. Alhasil, saya tidak terlalu merasa terbebani ketika kuliah. Saya justru merasakan kuliah sambil bermain, kuliah sambil bersenang-senang. Karena, apa yang saya lakukan memang benar-benar saya sukai.

Orang tua saya tidak menekan saya dan harus menuruti apa-apa yang mereka katakan. Orang tua saya lebih demokratis. Namun, saya sempat disuruh orang tua saya untuk memilih jurusan KU atau Teknik Mesin. Saya tidak punya passion sama sekali di dua jurusan itu. Ketika mengunjungi sahabat saya, melihat tebalnya buku satu mata kuliah KU saja sudah membuat saya mengantuk, apalagi membacanya. Bisa-bisa rambut saya rontok karena digerogoti tulisan-tulisan yang dipenuhi Bahasa Latin. Itu masih satu buku. Tiap semester, jika buku-buku itu ditumpuk, mungkin akan lebih tinggi dari Menara Eiffel.

Berbeda halnya dengan jurusan yang saya pilih. Tanpa buku. Hehehe. Kuliah di Teknik Informatika atau yang semacamnya itu hanya perlu satu teman baik, google. Kami punya slogan, Google Is Your Friend (GIYF). Jika ada kesulitan, hubungi google maka kamu akan mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Hehehe.

Ya, inilah hidup yang saya dan sahabat saya pilih. Inilah hidup yang kami jalani dengan riang gembira. Masih banyak saya jumpai teman-teman saya yang terlihat murung, tak memancarkan sinar kegembiraan kala berurusan dengan kuliah. Mungkin, salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak berada pada dunianya sendiri. Mereka terkurung dalam dunia orang lain yang bahkan mereka sebenarnya tak mau memasukinya. Dunia yang penuh duka, dunia yang penuh depresi, dan dunia yang penuh kesedihan. Namun, mereka terpaksa masuk ke dunia itu karena satu atau beberapa alasan.

Saya sempat mengatakan hal ini kepada orang tua saya ketika saya memilih Teknik Informatika.
“Pak, biarkan aku memilih apa yang aku inginkan. Biarkan aku menjalani apa yang aku suka. Mungkin jadi dokter kelihatannya enak tapi itu bukan yang aku inginkan. Biarkan saya menjalani pilihan saya. Ini bukan tentang duniamu lagi. Ini tentang duniaku sendiri yang akan kujalani hingga tua nanti.”

Saya mengatakan itu bukan berarti saya membangkang, tetapi saya mencoba meyakinkan orang tua saya. Alhasil, orang tua saya mengerti apa yang saya inginkan dan saya bertekad untuk tidak mengecewakan mereka.

Alhamdulillah, kini sedikit demi sedikit saya berhasil mencapai apa yang saya inginkan. Sedikit demi sedikit saya berhasil membahagiakan orang tua saya dengan jalan hidup yang saya pilih sendiri.

– Yogyakarta, 16 Juli 2014 –

Advertisements

2 responses to “Ini Bukan Tentang Duniamu, Ini Tentang Duniaku

  1. Cie super sekali haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s