Keputusan dan Keajaiban

Tulisan berikut adalah karya sahabat saya, seorang mahasiswa jurusan Kedokteran Umum di Universitas Diponegoro (Undip), sekaligus pimpinan tertinggi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip. Tulisan ini diamanahkan kepada saya untuk diterbitkan di blog pribadi saya. Sebuah tulisan yang menurut saya cukup untuk membuat iman kita kepada Tuhan semakin bertambah.

—–

Beberapa minggu lalu (Maret 2014), saya mendapat sebuah pengalaman menarik yg InsyaAllah bisa teman-teman ambil hikmahnya.
Berawal dari undangan oleh rekan-rekan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip untuk mengikuti Rapat Kerja (Raker) Awal tahun. Yang membuat menarik adalah acara ini tidak diadakan di dalam gedung atau tempat yang dekat dengan kampus kami. Nglimut , Kendal, Jawa Tengah, inilah tempat diadakannya acara tersebut. Di sebuah area bumi perkemahan, jadi pastinya jauh dan masuk meninggalkan daerah kota menuju kawasan hutan. 

Pertama, ketika mendapat undangan tersebut saya benar-benar tidak tahu di mana Nglimut itu bertempat. Sebenarnya bisa saja saya ikut rombongan rekan-rekan BEM pagi harinya, tetapi apa daya, saya juga mendapat undangan dari rekan-rekan Senat Mahasiswa (SM) Undip untuk rapat kerja awal tahun juga di Balai Lerep Indah, Ungaran. Mau tak mau saya harus berangkat sendiri menuju Nglimut setelah rampung raker SM Undip sekitar pukul 14.00.

Bermodal itikad baik untuk hadir, nekat dan google maps saya pun berangkat menuju Nglimut menggunakan Honda Beat biru kesayangan, hehe. Beberapa rute perjalanan memang saya kenali sampai percabangan Kendal-Semarang yang mulai asing di penglihatan saya. Dan di google maps saya melihat ada belokan ke kiri dan di sana tertulis belok setelah beberapa kilometer percabangan Kendal-Semarang. Tak berselang lama saya melihat plang tanda lalu lintas yang isinya Jika terus menuju Semarang – Boja, jika ke kiri menuju Gonoharjo (alternative). Melihat plang tersebut saya langsung memilih belok kiri, karena sewaktu saya gali informasi sebelumnya, Nglimut terletak di kecamatan Gonoharjo.

Semua berjalan baik-baik saja sampai berpuluh kilometer saya tempuh dan kawasan menjadi semakin sepi oleh rumah penduduk. Dan sampai ke percabangan jalan yang sudah tidak beraspal dua-duanya. Akhirnya saya ambil lajur kanan karena ada sedikit tanda arah Gonoharjo di sana. Setelah masuk ke jalan tanpa aspal tersebut beberapa kilometer, saya menjadi semakin ragu akan jalan yang saya tempuh. Lebar jalan hanya dua sampai tiga meter, penuh batu terjal, samping kiri tebing tinggi dan samping kanan jurang yang amat curam. Tak lupa pemandangan hutan lebat menghiasi, pohon tinggi dan semak belukar. Menelpon rekan-rekan di Nglimut juga kesusahan karena mereka sendiri kurang tahu mengenai jalan ke sana, dan saya sendiri tidak tahu posisi sedang ada di mana. Tanpa arah saya terus gas Beat saya dengan keadaan seperti itu sampai sekitar kilometer 5. 

Di kilometer 5 ,masih belum menemukan tanda-tanda kehidupan ataupun rumah penduduk satupun, dan melihat jarum bensin menunjuk ke E paling bawah membuat saya harus mengambil keputusan. Jika saya teruskan, seandainya memang ini menuju jalan raya saya tidak yakin dengan sisa bensin yang ada apakah masih mencukupi untuk sampai atau tidak, atau jika saya terus lurus apakah saya yakin saya tidak sedang menuju pusat hutan atau malah jalan buntu. Opsi kedua, saya harus berbalik arah yang sangat tak mungkin dengan kondisi jumlah bensin tersisa untuk sampai kembali ke plang lalu lintas tadi.
Saya terdiam di atas motor, ditengah hutan dengan masih berbalut jas almamater, tas dan sepatu rapi, mengambil nafas panjang dan menunduk sambil berdoa.

“Ya Allah, jika Engkau menghendaki untuk mengambil nyawa hamba di sini dan keadaan seperti ini, saya siap dan pasrah akan kehendak-Mu, ya Allah. Tetapi jika Engkau masih menghendaki untukku hidup di dunia, berilah hamba petunjuk dan jalan keluar . Aamiin”.

Setelah berdoa dan pasrah, tiba-tiba hati saya berkeinginan kuat untuk melanjutkan perjalanan dengan mengambil arah terus menjajaki jalan ini. Semoga ini yang terbaik. Setelah beberapa ratus meter menempuh jalan, tiba-tiba datanglah seorang bapak tua. Berjalan perlahan dari tengah hutan membawa dua bongkah kayu yg dipikul dipundaknya menuju jalan yang saya lewati. Alhamdulillah, dalam hati saya tak henti bersyukur. Saya langsung menghampiri , berkenalan dan menanyakan beberapa hal tentang Nglimut dan daerah ini, apakah saya menempuh jalan yang salah. Ternyata memang jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh menuju Nglimut, tetapi ternyata ada tembusan jalan jika melewati ini dan ini dan ini sambil diterangkan oleh bapak tua tadi. Setelah itu saya nyalakan kembali motor saya dan saat menoleh untuk berterima kasih kepada bapak tersebut, alangkah terkejutnya ternyata bapak tersebut sudah menghilang tanpa jejak sedikitpun dalam sekejap. Dengan tanpa basa-basi saya meneruskan perjalanan dengan senyum penuh syukur penuh terima kasih. Tak peduli akan sampai dengan sisa bensin ini, saya yakin Allah telah menentukan takdirnya kali ini untuk hamba-Nya. Dan Alhamdulillah dengan segala lika-liku jalan akhirnya saya keluar dari hutan, sampai jalan raya menuju Nglimut dan bisa menghadiri raker kawan-kawan BEM. Alhamdulillahirabbil’alamin.
Maka teman-teman semua tercinta, ketika kita telah sampai pada ujung ikhtiar dan usaha maksimal kita untuk menentukan sebuah keputusan penting, jangan sampai teman-teman lupa untuk mengikutsertakan Allah dalam keprasahan kita akan keputusan yang kita ambil. InsyaAllah, Allah akan senantiasa memberikan pentunjuk dan keputusan terbaik-Nya bagi hamba-Nya. Aamiiin.

Alfa Ajinata Afiv Ananda, Semarang, 16 Juli 2014

——

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s