Cinta Tak Menunggu

Senja yang kulihat kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Matahari seakan mengucapkan selamat petang kepadaku yang sedang duduk di tepi pantai. Desir  ombak melantunkan nada indah untuk menyambut sang malam. Kulambaikan tanganku sebagai tanda perpisahanku dengan matahari. Kusimpulkan senyumku sebagai tanda terima-kasihku kepada matahari.

Ya, sudah sepatutnya aku berterimakasih kepada matahari. Sinarnya membuatku bergerak. Sinarnya memberi kehidupan bagi pepohonan. Sinarnya membuat sang hewan tak lagi tersungkur letih.

Beberapa suara langkah kaki mendekat dari arah belakangku. Awalnya kuhiraukan apapun yang mendekat ke arahku. Aku hanya ingin menikmati tenggelamnya sang surya. Hingga akhirnya satu suara langkah kaki berhenti tepat disampingku. Aku percaya, perpisahan yang tak diucapkan, suatu saat akan bertemu lagi untuk membayar semua itu. Seorang gadis cantik telah duduk disampingku. Hesita, begitu aku biasa menyapanya.

Hesita: “Kamu masih menyukai fenomena alam yang menakjubkan ini, Cipio?”

Aku: “Tentu. Terbenamnya sang surya memberiku kedamaian. Desiran ombak melantunkan nada melankolis. Bukankah mereka kombinasi yang sempurna untuk mengistirahatkan jiwa dan raga ini?”

Hesita: “Hembusan angin membawa serta luka di jiwa dan raga. Luka yang terpatri di jiwa yang tegar. Bukankan mereka kombinasi yang lebih sempurna?”

Aku: “Rupanya kamu masih ingat sajak yang biasa kita lantunkan di pantai ini.”

Hesita: “Mana mungkin aku lupa? Pencipta tak akan lupa pada karyanya.”

Kami duduk berdua di hamparan pasir, dikelilingi hewan kecil berlalu lalang sembari meminta izin untuk sekadar lewat. Kami saling bertukar cerita di bawah gugusan bintang-bintang. Jutaan bintang turut merasakan kerinduan yang terpancar dari pembicaraan kami. Gugusannya mengisahkan cerita kami dari awal hingga pertemuan ini.

Hesita: “Masih ingatkah kau dengan gugusan di selatan itu?”

Aku: “Pavo, bukan?”

Hesita: “Yap. Dialah yang selalu menemani malam kita di pantai ini.”

Aku: “Ya, dialah sang merak pemancar kecantikan di selatan”

Rasi Pavo selalu muncul tatkala aku dan Hesita bercengkerama di pantai ini. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali aku memandang Rasi Pavo, aku melihat kecantikan Hesita yang dipancarkan oleh bintang-bintang. Tiba-tiba Hesita berdiri. Ditatapnya bintang-bintang kemudian dialunkannya puisi yang baru kali ini kudengar.

Lihatlah bintang mungil itu
Ia sendiri
Di antara jutaan bintang lain

Lihatlah bintang-bintang itu
Mereka berkumpul
Mengelilingi sang bintang mungil

“Andai ku bisa, akan kutarik matahari untuk menemaniku”
“Andai ku bisa, akan kuhangatkan tubuhku dengan sinarnya”
Keluh sang bintang mungil 

Wahai bintang mungil
Mengapa kau tak bergabung bersama mereka saja?
Mengapa kau menyendiri di satu sisi?

Hingga kusadari
Sebuah cahaya redup berada di sisinya
Cahayanya hampir padam
Dan aku melihat bintang tua yang memancarkan cahaya itu

Aku: “Puisi buatanmu?”

Hesita: “Ya. Aku membuatnya di hari itu.”

Aku: “Maafkan aku. Aku tak bermaksud menghilang.”

Hesita: “Tak apa. Aku sudah terbiasa.”

Aku: “Kau sengaja ingin membahas ini semua?”

Hesita: “Ya. Bukankah perpisahan yang tak diucapkan, suatu saat akan bertemu lagi untuk membayar semuanya? Sekarang kau harus membayarnya.”

Aku: “Kau akan terluka.”

Hesita: “Sudah kubilang, aku tak apa. Lebih baik bagiku kau jujur daripada kamu sembunyikan hal yang sudah jelas.”

Aku: “Kalau sudah jelas, mengapa harus aku jelaskan?”

Hesita: “Lihatlah bintang mungil itu. Semuanya sudah jelas. Tapi dia masih berada di sana karena cahaya redup. Kalau saja tak ada cahaya di sana, aku yakin dia tak akan menyendiri di sana lagi.”

Aku: “Bukankah kamu tahu aku mencintaimu selayaknya aku tahu kalau kau mencintaiku?”

Hesita: “Darimana kau benar-benar tahu? Bukankah kita tahu esok sang surya akan bersinar selayaknya sang surya tahu esok kita akan menantikan sinarnya? Dan sang surya benar-benar datang untuk menyinari kita semua.”

Aku: “Kau semakin pintar beretorika.”

Hesita: “Bukan beretorika, tapi mengajarkanmu berpikir menggunakan rasa dan logika. Bukankah rasa dan logika yang menjadikan cinta?”

Aku: “Aku mengerti. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

Hesita: “Lantas mengapa kau menghilang waktu itu?”

Aku: “Hari itu, aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku mencintaimu. Namun, aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan rasaku padamu. Kupikir menghilang adalah cara terbaik.”

Hesita: “Cipio, kau salah. Mengapa kau takut jika kau cinta? Mengapa kau tak berani menyatakan jika memang itu cinta?”

Aku: “Aku ingin menjaga kesucian cinta. Aku takut bukan cinta yang merasuk setelah aku mengungkapkannya.”

Hesita: “Cinta itu suci. Jika ia tak suci, ia bukan cinta. Kau ungkapkan cinta bukan berarti kau merusak kesuciannya. Kau ungkapkan cinta dan kau kuatkan jiwamu, maka kau akan menjumpai cinta sucimu.”

Aku: “Maafkan aku.”

Hesita: “Tak apa.”

Aku: “Maafkan aku telah membuatmu terluka.”

Hesita: “Kau lupa sajak kita? Hembusan angin membawa serta luka di jiwa dan raga. Luka yang terpatri di jiwa yang tegar. Hembusan angin telah membawa serta lukaku. Kau tak menyakitiku, lagi.”

Aku: “Tak hanya parasmu yang elok, hatimu pun mempesona.”

Hesita: “Sejujurnya aku melihatmu sepanjang hari duduk di pantai ini.”

Aku: “Lantas mengapa kau baru datang di malam hari?”

Hesita: “Kau tahu, malam adalah waktu dimana kejujuran terbuka lebar. Kejujuran menampakkan dirinya seutuhnya. Tak seperti siang yang selalu menyilaukan kejujuran, malam memberi kebebasan pada kejujuran.”

Aku: “Jadi semua ini skenariomu?”

Hesita: “Ya. Terakhir kali kau meninggalkanku di kala sang surya masih bersama kita. Aku tak ingin lagi kejujuranmu disilaukan oleh cahaya sang surya.”

Aku: “Masih adakah singgasana mewah di hatimu untukku, Hesita?”

Hesita: “Maaf.”

Aku: “Mengapa? Bukankah kau dan aku saling mencintai?”

Hesita: “Cipio, kau mengharapkan keabadian di tengah ketidakpastian? Bangunlah!”

Aku: “Tapi kita saling mencintai”

Hesita: “Dulu. Dulu sekali aku benar mencintaimu. Namun, cinta tak menunggu, Cipio. Cinta itu dinamis. Ia mencari keabadian di tengah kepastian, bukan di tengah ketidakpastian. Di kepastian itulah ia akan statis. Di singgasana kepastian itulah ia menari. Di altar kepastian itulah ia hidup abadi.”

Hesita beranjak dari tempat ia duduk. Ia tersenyum kepadaku lalu meninggalkanku. Suara langkah kakinya perlahan tak terdengar. Aku masih di pantai ini, menikmati malam bersama bintang-bintang. Sejenak kulihat bintang mungil di atasku. Cahayanya semakin terang. Tepat di sisi bintang mungil itu kini muncul bintang yang sinarnya tak kalah terang dengan bintang mungil. Bintang tua yang redup tak nampak lagi. Entah kemana dia pergi. Mungkin dia sudah tak bersinar lagi.

Advertisements

One response to “Cinta Tak Menunggu

  1. Pingback: A Conversation with Mind | Good Alakazam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s