Dari Merah ke Putih

Sudah tiga hari Sudrun berwajah pucat pasi. Lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai. Persis seperti orang kena penyakit anemia. Padahal waktu ke dokter tiga hari lalu kesehatannya baik-baik saja. Lah dalah, kok sekarang jadi seperti mayat hidup gini. Kondisinya sudah seperti kurs rupiah terhadap dollar, makin hari makin mengenaskan.

“Aku bingung, Jo”, kata Sudrun.
“Ada apa, Drun?” jawab Paijo.
Gini lho, Jo. Pacarku lagi marah-marah. Minta liburan ke ibukota tapi naik pesawat. Uang darimana? Gaji pas-pas-an. Buat modal nikah saja susah. Jangankan nikah, pacaran saja nongkrongnya di warung kopi, Jo.”
“Aduh aduh. Ayak ayak wae pacarmu, Drun. Naik pesawat kan sekarang mahal. Lah, sama Pak Menteri dinaikkan harga tiketnya gegara kejadian pesawat merah kapan hari itu.”
“Iya, Jo. Apalagi kemarin pesawat putih barusan tergelincir. Pasti Pak Menteri mau menaikkan harga tiket lagi. Kalau dulu, logikanya Pak Menteri, harga murah, keselamatan tidak terjamin. Nah, kalau habis ini naik lagi, aku udah gak mudeng sama logikanya Pak Menteri.”
“Aduh aduh. Pesawat putih itu kenapa juga sih sampai tergelincir? Apa karena landasan terbangnya mulus banget kayak kasus suap ya, Drun? Saking mulusnya sampai nggak ada yang bisa menangkap Si Tikus-Tikus Gedongan. Hehehe.”
Lho lho lho. Jangan ngawur kamu, Jo. Si Cicak bisa menangkap mereka, Jo.”
Halah, kamu belum tahu berita terbaru ya, Drun? Si Cicak lagi diterkam Si Buaya, Drun.”
Loh? Si Buaya kan binatang baik, Jo? Slogannya saja ‘melindungi dan mengayomi bangsa hewan’. Kok sekarang malah menerkam koleganya sendiri?”
“Tidak tahu, Drun. Mungkin Si Buaya sedang ada ‘tamu’, Drun. Biasa, ‘tamu’ bulanan. Gejalanya persis, kan? Atau jangan-jangan Si Buaya sedang lapar ya, Drun? Belum makan snack Siniker mungkin.”
“Ada-ada saja kamu, Jo. Dulu, setahuku Si Buaya ributnya sama Si Hiu. Sekarang malah sama Si Cicak.”
“Kalau kisah yang itu ada kabar gembira, Drun. Walikotanya dapat peringkat tiga di kelasnya.”
Halah cuma peringkat tiga saja, Jo. Belum peringkat satu. Kalau peringkat satu baru aduhai hebat, Jo.”
“Jangan sembarangan kamu, Drun. Pak Presiden saja tidak dapat peringkat lho.”

Sebentar-sebentar, tadi kan sedang membahas pacarnya Sudrun, kenapa larinya ke kebun binatang? Duh duh duh.
“Drun, memangnya kenapa kok pacarmu ingin liburan ke ibukota?”
“Katanya, dia ingin mengambil emas Alun-Alun Ibukota, Jo. Sekilo dua kilo kan lumayan, Jo. Bisa dipakai buat modal nikah. Toh, kemarin ibukota baru saja mendapatkan penghargaan, Jo. Makin wajar kalau pacarku minta kesana.”
“Penghargaan apa, Drun?”
“Kamu belum tahu? Itu lho, ibukota dinobatkan sebagai kota termacet nomor satu di dunia, Jo. Keren banget, kan? Lebih hebat daripada walikota Si Hiu dan Si Buaya. Pacarku jadi makin ngebet ingin kesana. Ingin merasakan kemacetan di ibukota.”
“Wah, hebat sekali ibukota kita. Bisa mengalahkan ribuan kota lain di dunia. Prestasi ini harus dipertahankan. Jangan sampai kalah sama kota lain. Jangan sampai disusul sama kotanya Si Hiu dan Si Buaya yang katanya ada di peringkat empat.”

Sudrun yang awalnya ingin mendapatkan nasehat dari Paijo, malah semakin bingung karena pembicaraan yang tidak jelas alurnya, persis seperti rencana realisasi mobil listrik nasional. Entah bagaimana kabarnya saat ini. Dulu sempat ramai dibicarakan, sekarang menguap tak bersisa. Konon, anak muda lulusan Negeri Sakura yang digadang-gadang mampu merealisasikan wacana mobil listrik, tiba-tiba ngambek. Katanya, pemerintah kurang perhatian. Aduh anak muda, kalau butuh perhatian ya cari istri, jangan ke pemerintah. Pemerintah kita sudah terlalu lama sendiri, jadi sudah tidak bisa perhatian ke orang lain. Sudah lupa caranya perhatian. Jangankan mobil listrik, mobil esemka saja tidak ada gaungnya lagi. Entah kemana ia pergi.

Sudrun yang sedang gundah gulana mencoba mencari pencerahan ke Sukiyem, salah satu teman baiknya.  Disusurinya jalan raya yang kian hari kian padat. Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di sampingnya. Elektron merk-nya, mobil kondang yang jadi buah bibir di masyarakat karena diharapkan bisa menjadi mobil nasional. Mobil ini buatan Negeri Jiran tetapi diakui sebagai mobil nasional, kan lucu? Ini ibarat mengadopsi anak, tetapi keukeuh bilang kalau anak kandung. Jelas beda. Pabrikannya beda, onderdilnya beda, yang membuat juga beda. Kalau iya mau membuat mobil nasional, harus dari pabrikan dalam negeri. Ibarat punya anak, dibuat disini, dilahirkan disini, disusui disini, dirawat disini, diselimuti disini, dihangati disini, dan dibesarkan disini. Atau jangan-jangan pemerintah merasa selimut tetangga lebih hangat? Ah mana mungkin.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sudrun paham betul bahwa itu adalah mobil milik Sukiyem.
“Masuk, Drun”, kata Sukiyem dari dalam mobil.
“Terima kasih, Yem. Kebetulan aku mau menemuimu.”, jawab Sudrun sembari masuk ke dalam mobil.
“Ada apa, Drun? Tumben.”
Gini lho, pacarku minta liburan ke ibukota naik pesawat, Yem. Aku sedang tidak punya uang. Kalau tidak dituruti nanti malah berantem terus putus. Aku bingung, Yem.”
“Pacarmu? Yang mana, Drun?”
“Yang suka pakai baju merah itu lho, Yem. Pacarku cuma dia.”
“Oh aku ingat. Liburan ke ibukota mahal, Drun. Liburan ke kota Lumpur saja. Kamu bisa mengambil lumpurnya terus dijadikan bahan untuk membangun rumah. Lumayan bisa menghemat biaya, Drun.”
“Itu kan lumpur milik Pak Abu Gosok, Yem. Mana berani aku mengambilnya begitu saja.”
“Oh itu ada yang punya? Aku kira tidak ada, Drun. Aku lihat tiap hari keluar begitu saja jadi aku kira itu milik alam. Pak Abu Gosok pasti kaya banget ya bisa punya lumpur sebegitu luasnya.”
“Kaya darimana, Yem? Kalau orang kaya, biaya sewa lahan lumpur itu sudah diganti sama Pak Abu Gosok. Nyatanya, sampai sekarang saja belum dibayar.”
“Serius, Drun? Aku kira Pak Abu Gosok orang kaya. Mobilnya banyak, istri sama anak-anaknya hidup berlebih, malah dulu mau maju jadi calon presiden. Pasti kaya banget, Drun. Jangan sembarangan kamu!”
“Ampun, Yem. Ampun. Mungkin waktu maju jadi calon presiden dulu, bapaknya lagi ada rezeki. Nah, waktu ditagih pembayaran lahan, bapaknya lagi tidak ada rezeki.”

Sudrun sadar kalau alur pembicaraan mulai tidak jelas. Dia diam sejenak sambil melihat sebuah buku di mobil Sukiyem. Judulnya Saatnya Aku Belajar Pacaran. Dibacanya sekilas-sekilas isi buku itu. Beberapa halaman dilewati, beberapa lainnya dibaca dengan seksama.
“Apa-apaan ini, Yem?! Buku macam apa ini?! Biadab!”, teriak Sudrun.
“Oh itu buku yang lagi ramai dibicarakan, Drun. Nggak bener buku itu. Hari ini rencananya aku mau lapor ke pihak berwenang. Teman-teman pecinta buku juga sudah mulai bergerak. Di media sosial, masyarakat ramai-ramai mengecam buku itu.”
“Harus dikecam, Yem. Harus ditarik dari peredaran. Dimusnahkan. Buku ini mengajarkan hal-hal yang tidak benar, tidak bernorma.”
“Betul, Drun. Padahal, buku itu sudah terbit dari tahun 2010. Berarti, sudah hampir lima tahun buku itu meracuni anak bangsa. Wajar saja sex bebas semakin meningkat. Lah, memang diajari dan dituntun. Buku ini sudah menghancurkan bangsa secara masif, sistematis, dan terselubung.”
“Aku temani kamu melaporkan buku ini, Yem. Aku jadi ikut geregetan. Mau jadi apa bangsa ini kalau buku yang beredar isinya semacam ini?”
“Terus urusan sama pacarmu?”
“Biarkan saja, Yem. Putus ya putus. Sebagai gantinya, kenalkan aku sama temanmu yang suka pakai baju putih itu, ya?”
“Sudrun Sudrun. Sak karepmu lah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s