Manajemen Pikiran dan Perasaan

Beberapa bulan yang lalu saya baca kembali tulisan saya yang berjudul Manajemen Hati dan Pikiran. Saya teringat akan hal yang membuat saya menulis tulisan itu tiga setengah tahun yang lalu. Saya juga teringat bahwa tulisan itu belum selesai sepenuhnya dan saya pernah berjanji kepada beberapa pembaca untuk menuliskan lanjutannya.

Beberapa bulan lalu, seorang pembaca mengingatkan saya akan janji itu. Mulailah saya kembali belajar dan membuka berkas-berkas lama mengenai hal-hal abstrak yang saya sukai itu. Beberapa hal harus saya lakukan, seperti memahami ulang arti pikiran dan perasaan, membaca literatur, mencari contoh penggunaan pikiran dan perasaan di kehidupan nyata akhir-akhir ini, utamanya pada proses pemecahan masalah, serta berdiskusi dengan orang lain.

Pertama, perlu dipahami dahulu mengenai arti dari manajemen, pikiran, dan perasaan. Hal ini penting karena batasan masalah dan ruang lingkup pencarian dapat diminimalisir tanpa mengurangi kualitas tujuan pemecahan masalah. Oleh karena itu, hal pertama yang coba saya jelaskan adalah pengertian ketiga kata utama dalam judul tulisan ini.

Apa itu manajemen? Manajemen adalah kemampuan untuk mengatur dan mengoordinasikan hal-hal yang ada di sekitar kita. Mengatur letak tempat duduk, parkir, atau pakaian adalah contoh manajemen yang sering dilakukan. Maka, manajemen akal dan perasaan adalah kemampuan untuk mengoordinasikan fungsi pikiran dan perasaan, utamanya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, apa itu pikiran? Apa itu perasaan?

Pikiran atau biasa juga disebut akal adalah daya pikir untuk pemecahan suatu masalah. Pikiran juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami sesuatu. Dapat disimpulkan, pikiran adalah suatu alat atau kemampuan untuk memahami sesuatu.

Pikiran memiliki tingkat kualitas. Kualitas pikiran bergantung pada tiap individu. Semakin banyak pengetahuan mengenai sesuatu dan semakin pandai menghubungkan data atau pengetahuan, maka semakin bagus kualitas pikiran tersebut. Contoh: teori Heliosentris milik Copernicus yang menjungkirbalikkan teori Geosentris tradisional.

Perasaan berasal dari kata dasar rasa yang berarti tanggapan indera terhadap rangsangan. Contoh rasa adalah manis, asam, perih, pahit, dan sakit. Singkatnya, perasaan dapat diartikan sebagai hasil perbuatan dengan menggunakan indera.

Namun, perasaan dapat juga memiliki arti lain yang lebih berhubungan dengan sisi kejiwaan atau psikologi manusia. Perasaan memiliki arti keadaan batin atau gejolak jiwa sewaktu menghadapi sesuatu. Contoh perasaan pada pengertian kedua ini adalah cinta, sayang, marah, dan dengki. Pada pengertian ini, perasaan dapat disamakan dengan emosi atau hawa nafsu.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pikiran berguna untuk memahami sesuatu. Sedangkan perasaan digunakan untuk merasakan keadaan sesuatu. Apabila seseorang ingin mengetahui gizi suatu makanan, ia harus menggunakan pikirannya. Sebaliknya, apabila ia ingin merasakan lezatnya suatu makanan, maka ia harus merasakan menggunakan perasaannya. Apabila seseorang ingin memahami cinta atau kasih sayang, ia harus menggunakan pikirannya untuk mengetahuinya. Sebaliknya, apabila ia ingin merasakan kasih sayang, mutlak ia harus membiarkan dirinya hanyut dalam perasaan yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mendapatkan sensasi kasih sayang itu sendiri. Apabila seseorang ingin memahami sesuatu tetapi menggunakan perasaan, niscaya ia tak akan pernah paham. Salah-salah malah timbul kesimpulan yang salah kaprah. Apabila seseorang ingin merasakan sesuatu, ia tak bisa hanya dengan memikirkannya saja. Ia harus memaksa dirinya untuk ikut lebur dalam sesuatu tersebut.

Faktanya, manusia tidak dapat mengabaikan salah satu dari kedua hal tersebut. Nah, disinilah peran penting ilmu manajemen pikiran dan perasaan. Penggunaan perasaan tanpa adanya dukungan dari pikiran akan menimbulkan malapetaka. Misalnya, narkoba. Tak diragukan lagi bahwa narkoba memberikan rasa bahagia yang begitu luar biasa bagi penggunanya. Namun, tak boleh disangkal bahwa narkoba juga memberikan dampak yang begitu buruk bagi pengguna, mulai dari rusaknya organ tubuh, hilangnya kesadaran, hingga kematian. Sehingga, orang yang bijak akan senantiasa menjauhi narkoba meskipun godaan kesenangannya begitu luar biasa tapi itu tak sebanding dengan dampak buruk yang ditimbulkan. Contoh lain, ibu hamil. Perasaan ibu hamil, apalagi pada fase melahirkan, begitu kacau dan menderita. Namun, dengan pertimbangan pikiran, ibu tersebut tetap keukeuh melahirkan bayinya.

Sebagaimana perilaku orang tua yang terkadang memarahi anaknya, hal ini juga merupakan perbuatan yang wajar selama dilandasi dengan alasan yang tepat. Apabila seorang anak melakukan kesalahan pada tingkatan tertentu, wajar apabila orang tua memarahi anaknya. Secara perasaan, orang tua pasti tidak tega berbuat demikian kepada anaknya. Namun, dengan pertimbangan pendewasaan dan pembelajaran, hal tersebut harus dilakukan asal dalam taraf yang wajar, artinya perasaan atau emosi yang dikeluarkan sebanding dengan kesalahan yang dilakukan. Konsep ini berlaku pula bagi guru yang memarahi muridnya, teman yang mengingatkan sesamanya, kekasih yang menasehati orang yang dicintainya. Semua wajar selama ada landasan pikiran yang baik meskipun secara perasaan sangat menyiksa. Justru, mereka yang tidak melakukan hal itu dapat dikatakan sangat tidak memikirkan atau menyayangi orang lain.

Manusia juga tidak hanya dapat mengandalkan pikirannya saja. Misalnya, seorang cendekiawan yang fokus pada penelitiannya sehingga mengabaikan unsur-unsur perasaan di sekitarnya, seperti kasih sayang keluarga, indahnya pemandangan alam, dan kelezatan makanan. Dampaknya, ia akan mudah resah, gelisah, kehampaan hati, bahkan terkena penyakit seperti darah tinggi.

Sebagai contoh, orang tua yang menasehati anaknya. Suatu ketika seorang anak berbuat salah kemudian untuk memberi efek jera, orang tua menghukum anak tersebut seberat-beratnya. Perilaku ini tidak memberikan efek jera tetapi malah membuat anak tersiksa. Untaian kasih sayang yang seharusnya diterima anak malah tak diterima anak tersebut. Yang ada, anak tersebut membenci orang tuanya.

Kesimpulannya, penggunaan perasaan yang baik harus selalu didasari pertimbangan pikiran. Dan juga, penggunaan pikiran yang baik senantiasa diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan perasaan. Untuk pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, metode yang tepat, menurut saya, adalah pengumpulan data, pengolahan melalui proses berpikir untuk menemukan kebenaran, lalu menggunakan perasaan untuk menentukan etika. Singkat kata, berpikir dulu baru merasakan, jangan merasakan dulu baru berpikir.

Konsep ini berlaku bagi manusia tidak hanya sebagai subyek, tetapi juga sebagai obyek. Sebagai subyek, dalam melakukan sesuatu, hendaknya seseorang selalu memikirkan tindakan terbaik yang akan ia perbuat. Tentunya dengan berbagai pertimbangan rasional dan jalan yang beretika luhur. Sebagai obyek, apabila seseorang menerima perlakuan dari orang lain, hendaknya tidak serta merta dirasakan, tetapi alangkah baiknya dipikirkan terlebih dahulu kira-kira apa yang melatarbelakangi orang tersebut berbuat demikian. Fenomena baper (bawa perasaan), dengki, berprasangka buruk, dan sifat buruk lain seringkali muncul akibat kesalahan seseorang itu sendiri dalam menerima perilaku orang lain. Kebanyakan dari mereka tidak memikirkan terlebih dahulu, tetapi merasakan terlebih dahulu.

Saya jadi teringat sebuah catatan dari teman diskusi saya. Saya dan mereka tidak tahu darimana catatan ini berasal. Kepada siapapun yang membuat catatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih. Berikut isi catatan tersebut sekaligus mengakhiri tulisan ini. Selamat belajar.

———-

Pesan Dari Perasaan

 Hai, perkenalkan…

 Aku ada di dalam setiap diri insan
Orang-orang di sini menamaiku perasaan

Akulah yang bisa membuatmu bahagia
Aku jugalah yang bisa membuatmu menderita

Banyak orang tunduk kepadaku
Banyak orang yang menjadikan aku sebagai rajanya

Mereka menuruti apa saja mauku
Mereka tak akan melakukan apa yang tak aku mau

Aku punya rekan yang hidup bersama denganku di setiap insan
Orang-orang banyak menyebutnya pikiran 

Aku dan pikiran kadang bisa menjadi kawan
Namun kebanyakan menjadi lawan 

Pikiran bekerja sebagai penasehat atas keputusanmu
Tapi aku, aku adalah atasanmu yang kamu harus tunduk kepadaku 

Kamu pasti merasakan penderitaan jika tak menuruti kemauanku
Sebaliknya, aku bisa membuatmu bahagia walaupun kadang mengabaikan penasehatmu itu 

Namun sebenarnya kawan
Aku tidaklah sejahat yang sering dibayangkan
Aku hanya perlu diarahkan
Diarahkan kepada kesenangan maupun penderitaan berdasarkan kebenaran 

Jika kau mau mengarahkanku
Suruhlah penasehatmu itu untuk mengubah persepsimu
Agar kamu bisa memiliki pemaknaan yang berbeda
Lalu aku juga akan memberikanmu perintah yang berbeda 

Ada sebagian orang yang senantiasa menurutiku, namun berakhir dengan mengenaskan
Aku memberinya kesenangan, namun kemudian hilang begitu cepat
Itu karena aku tak ditempatkan sebagaimana mestinya
Aku tidak diarahkan dan tidak pula diberikan kebenaran 

Oleh karena itu kawan
Kamu tidak perlu takut kepadaku
Aku akan menjadi jalan penerang buatmu
Selama kau berikan kebenaran kepadaku

Berikan gambaran kesenangan yang benar
Berikan gambaran kesengsaraan yang benar
Maka aku juga akan berikan kau perintah yang benar 

Tak hanya tuk dapatkan kesenangan yang sementara
Tapi kesenangan yang bisa kau nikmati selamanya 

Jangan biarkan aku menjadi liar
Jangan biarkan aku berikan kau perintah yang kufur
Kuatkan pikiranmu
Lindungi aku dengan nasehatmu 

Mau tidak mau
Aku di dalam dirimu
Kau tak bisa mengabaikanku
Kau tak bisa menghilangkanku
Maka arahkan aku
Demi kebahagiaanmu yang kekal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s