Berhenti Sejenak

Dua tahun lebih saya tidak menulis di blog. Waktu yang lama bagi seseorang yang gemar menuangkan ide dalam bentuk tulisan maupun rangkaian monolog dan dialog dalam pikiran. Sebenarnya, saya beberapa kali membuat tulisan dan meletakkanya di folder draft. Namun, belum selesai tulisan-tulisan itu dibuat, saya sudah menghapusnya karena beberapa alasan, yang salah satunya adalah konsep tulisan itu saya anggap tidak layak untuk diterbitkan di blog ini. Beberapa tulisan yang saya anggap tidak cocok, saya jadikan celotehan atau rangkaian cerita pendek di akun Facebook dan Line saya.

Kemudian, datanglah inspirasi yang menurut saya tepat untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Mulailah saya menulis lagi untuk saya terbitkan di blog ini. Tulisan ini bercerita tentang istirahat dalam kaitannya dengan rutinitas dan keseharian.

Saya pernah membayangkan bilamana manusia terus berusaha tanpa pernah istirahat. Terbayang oleh saya cekungan hitam di bawah mata, kerutan di dahi, pelipis yang layu, bibir yang rapuh, dan aura yang semu. Mungkin persis seperti penampakan zombie di film.

Istirahat merupakan hal yang lazim dilakukan oleh makhluk hidup. Makhluk hidup butuh istirahat, entah karena kelelahan, kebosanan, keinginan, atau memang kebutuhan. Orang yang berolahraga pasti beristirahat di sela-sela atau di akhir kegiatannya. Hewan pemangsa pasti beristirahat untuk merelaksasikan tubuhnya. Tumbuhan juga beristirahat dari memproduksi oksigen di malam hari akibat ketidakcukupan sumber cahaya.

Pun dengan hidup. Hidup juga butuh istirahat. Entah berisitrahat dari rutinitas dan penat ataupun hanya untuk sekadar menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali.

Rutinitas yang itu-itu saja memang membosankan. Melakukan hal yang itu-itu saja dan diulang terus menerus setiap hari adalah contoh keadaan yang tidak sehat. Mari berkaca pada Hukum Gossen I. Meski secara teks Hukum Gossen I berbicara tentang perekonomian dan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi dengan mengambil inti sari dari hukum tersebut, kita dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang sama terhadap kegiatan atau kehidupan. Bahwasanya kegiatan yang dilakukan terus menerus, seinovatif dan sekreatif apapun kegiatan itu pada awalnya, lambat laun akan mencapai titik dimana kegiatan itu berkurang nilanya atau bahkan tak memiliki nilai lagi.

Saya menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir saya terbelenggu oleh jeratan rutinitas. Seketika itu saya menyiapkan beberapa hal agar bisa keluar dari jeratan yang tidak saya sukai. Saya teringat akan sebuah post di Instagram yang saya like beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih (dengan beberapa modifikasi) berikut maksud tulisan yang ada di post itu.

Ketika rutinitas menjadi kebiasaan, tanpa sadar ia akan kehilangan tujuannya. Ketika rutinitas menjadi kebiasaan, tanpa sadar ia akan kehilangan maknanya. Ketika rutinitas menjadi kebiasaan, tanpa sadar ia akan bergerak tanpa arah. Ketika rutinitas menjadi kebiasaan, tanpa sadar ia akan mendistraksi motivasi. Karenanya, ketika rutinitas menjadi kebiasaan, maka keluarlah darinya dan kembalilah ke permulaan dan resapi kembali maknanya.

Keluar dari jeratan rutinitas (bukan keluar dari rutinitas) itu perlu. Di satu sisi, hal itu bisa menumbuhkan kembali semangat dan motivasi yang layu. Di sisi lain, hal itu bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan stress dan kekhawatiran. Saya beberapa kali berbicara dengan orang yang terjebak rutinitas. Pernah suatu hari seseorang bertanya kepada saya “Apa kamu gak bosen tiap hari cuma gitu-gitu aja? Sekarang bayangin ya, aku tiap hari melakukan hal yang sama dan itu harus berulang tiap hari. Rasanya hidup cuma itu-itu aja.”

Well, jawaban saya untuk pertanyaan itu selalu sama: mengarahkan pada tujuan hidup. Pertanyaan seperti itu erat sekali kaitannya dengan tujuan hidup. Pemilihan dan pemahaman tujuan hidup yang salah kerap berujung pada hal-hal sejenis itu, seperti depresi, frustasi eksistensial, bahkan berujung pada bunuh diri. Namun, di sini saya tidak akan banyak membahas tujuan hidup karena fokusan utama tulisan ini adalah tentang keluar dari jebakan rutinitas.

Meski memiliki tujuan hidup yang benar (dan mulia), seseorang tak bisa lepas dari kebosanan. Kebosanan adalah hal alami yang dimiliki manusia. Malahan, kebosanan adalah hal yang menjadikan manusia itu manusia. Oleh karena itu, ketika kebosanan melanda, maka yang menjadi target pembenahannya adalah kebosanan itu sendiri, bukan melarikan diri dengan cara yang tidak baik, seperti bunuh diri.

Jeratan rutinitas ini biasanya mudah dilihat ciri-cirinya. Pertama, semangat menurun drastis. Kedua, raut wajah tampak malas. Ketiga, lesu dan lunglai seperti orang anemia. Keempat, sering melamun tidak jelas. Kelima, nafsu makan berkurang. Keenam, kalau sudah parah, biasanya mempertanyakan arti hidup.

Berada di zona kebosanan sangat tidak nyaman. Apapun yang kita lakukan terasa hambar. Raga mungkin masih melakukan apa yang biasa dilakukan, tetapi pikiran tak lagi menyatu dengannya. Keseharian mungkin masih seperti apa adanya, tetapi jiwa sepertinya sudah melanglang buana entah kemana. Persis seperti kata pepatah: hidup segan, mati tak mau.

Ketika saya merasa bahwa saya dilanda kebosanan atau jeratan rutinitas, saya mencoba mengubah beberapa hal yang membuat saya bosan, yang bahkan terkesan mengubah diri. Beberapa hal yang saya lakukan adalah menghabiskan waktu sekitar sepekan penuh di rumah orang tua, mengantar/menjemput adik ke/di sekolah, lebih sering “mengabarkan” aktifitas yang sedang saya lakukan di instagram story (ini bahkan ada yang menyangka saya “berubah” :P), berkumpul santai sambil bersenda gurau serta menghabiskan akhir pekan di luar kota bersama kawan, menonton acara di televisi (berita, komedi, atau sinetron jaman dulu yang kembali tayang di salah satu televisi swasta), hingga lebih sering mengajak orang lain berbicara. Intinya, hal-hal yang saya lakukan adalah hal yang di luar kebiasaan agar suasana menjadi berbeda dari biasanya.

Untuk menghidupkan kembali motivasi dan kebermaknaan hidup, saya membaca kembali tulisan lama saya. Saya juga membaca buletin yang belum sempat saya. Saya juga melanjutkan membaca buku yang tidak terbaca selama beberapa pekan. Pun, saya membaca curriculum vitae yang saya buat demi menjaga konsistensi antara tulisan dan tindakan.

Saya tidak cuma sekali atau dua kali berhenti dari apa yang sedang saya jalani. Kapanpun kebosanan melanda, saya memilih berhenti sejenak dari apa yang membuat saya bosan. Kala saya bosan karena makan makanan yang itu-itu saja, saya mencari jenis makanan lain. Kala saya bosan di tempat tinggal saya, saya pergi ke suatu tempat untuk mencari suasana baru.

Perlu diingat bahwa berhenti sejenak berarti benar-benar hanya sejenak. Jangan larut dalam suasana baru dan melupakan perjuangan yang sedang dirintis. Di awal perlu ditekankan bahwa perubahan suasana hanya dimaksudkan untuk sekadar melepas penat demi menyalakan kembali lentera motivasi yang redup serta menegakkan kembali semangat yang layu.

Sejenak merupakan fungsi waktu. Dalam konteks ini, definisi sejenak juga bergantung pada pribadi masing-masing dan tingkat kepenatan yang dialami. Saya bisa saja hanya berhenti satu atau dua hari dari rutinitas untuk mendapatkan kembali semangat dan motivasi. Namun, orang lain bisa saja berbeda. Mungkin ada yang hanya butuh satu atau dua jam. Mungkin juga ada yang butuh hingga berbulan-bulan lamanya. Yang pasti dan perlu dipahami adalah sejenak harus benar-benar berarti sejenak, bukan malah terlarut dan menjadi sumber kepenatan yang baru.

Saat kamu lelah, berhentilah sejenak. Saat kamu letih, berhentilah sejenak. Saat kamu bosan, berhentilah sejenak. Saat usahamu tak jua membuahkan hasil, berhentilah sejenak. Saat semangatmu tak lagi membara, berhentilah sejenak. Saat ragamu tak kuasa lagi berdiri, berhentilah sejenak. Saat jiwamu tak lagi tegar, berhentilah sejenak.

Saat istirahatmu usai, berdirilah. Tegakkan dirimu. Kuatkan jiwamu. Kobarkan api semangatmu. Kembalilah ke duniamu. Kembalilah berjuang. Kembalilah meraih cita-cita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s