Mental Block

Hampir menginjak fase seperempat abad, membuat saya mencoba memutar kembali berbagai cerita dan perenungan. Salah satu hal yang muncul dalam ruang imajinasi saya adalah betapa selama ini saya bertemu dengan orang-orang yang beragam. Mereka unik. Setiap orang memiliki karakter masing-masing yang dengan adanya itu membuat saya belajar banyak hal. Tidak satu orangpun yang saya kenal yang tidak saya tarik pelajaran darinya.

Untuk beberapa orang, saya bahkan memiliki ekspektasi tinggi terhadap mereka. Entah darimana datangnya, saya yakin bahwa mereka bisa melakukan hal-hal luar biasa. Membayangkannya saja sudah membuat saya tersenyum kagum. Namun, sedikit dari mereka yang pada akhirnya benar-benar membuat saya mengatakan “I’m speechless!”.

Tanpa bermaksud merendahkan mereka, tanpa bermaksud menggurui mereka, tanpa bermaksud mencederai perasaan mereka, dan tanpa ada maksud buruk lainnya, saya mencoba berbagi suatu pengetahuan yang menurut saya menjadi salah satu faktor mengapa orang-orang hebat itu tak kunjung menjadi hebat seperti seharusnya.

Menurut saya, salah satu faktornya adalah mental block. Mental block adalah sebuah kondisi hambatan mental atau psikologis yang menyelebungi pikiran seseorang. Contoh mental block adalah seorang public speaker berpengalaman tetapi selalu merasa tidak mampu jika disuruh berbicara di acara resmi dan di hadapan orang-orang penting. Contoh lain adalah seorang yang gagal dan tak pernah mau mencoba lagi.

Mental block ada yang negatif, ada juga yang positif. Contoh mental block yang positif adalah merasa bersalah apabila tidak memenuhi janji. Sedangkan contoh mental block yang negatif seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya. Mental block memang identik dengan rasa pesimis dan penolakan untuk melakukan sesuatu hal. Padahal, kita semua tahu bahwa pesimis itu tidak baik.

Mental block merupakan suatu keyakinan dalam diri yang tanpa sadar menyelimuti pikiran seseorang. Maxwell Maltz, dalam bukunya yang berjudul Psycho-Cybernetics, mengatakan bahwa sistem keyakinan merupakan sistem hipnotis diri. Artinya, apa yang kita yakini akan senantiasa merasuk ke celah-celah jiwa kita. Jika yang kita yakini itu benar (mental block positif), maka itu adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Namun, jika apa yang kita yakini itu buruk (mental block negatif), maka itu adalah sebuah hal yang harus kita buang jauh-jauh.

Saya cukup sering menjumpai kondisi semacam ini. Betapa orang-orang hebat yang saya kenal acap kali menolak melakukan sesuatu yang mereka bisa hanya dengan dalih pesimis. Bahkan, ada yang menggunakan dalih rendah hati untuk suatu sikap yang bukan rendah hati. Kita memang dianjurkan untuk selalu rendah hati, tetapi tidak pernah dianjurkan untuk pesimis dan rendah diri.

Orang-orang terdekat atau yang pernah dekat dengan saya, pastinya tak asing dengan kata-kata saya berikut: “Iso iso. Wes lah. Percoyo. Nek aku ngomong iso, yowes iso” atau dalam Bahasa Indonesia berarti: “Bisa bisa. Sudahlah. Percaya. Kalau aku ngomong bisa, pasti bisa“. Kata-kata itu saya ucapkan ketika orang-orang terdekat saya sedang bimbang akan suatu hal baru atau sulit. Apabila berdasarkan data yang saya punya dia mampu, maka saya tak segan dan tak ragu mengatakan kalimat itu kepadanya.

Ketika SMP, sekolah saya membuat satu kelas khusus yang disebut kelas unggulan. Isi kelas ini adalah murid-murid yang dinilai pintar. Harapannya, dengan dikumpulkannya murid-murid pintar dalam satu kelas, potensi mereka bisa lebih berkembang. Selain itu, apabila ada lomba akademik, pihak sekolah tidak kesusahan mencari bibit-bibit unggul.

Beberapa teman saya ditawari guru untuk masuk ke kelas unggulan. Mayoritas sikap mereka sama, yaitu menolak karena merasa tidak cukup mampu. Dua teman saya yang saya anggap sangat layak masuk ke kelas itu juga mengatakan hal serupa. Mereka berdua mengajak saya berbicara dan tanpa ragu saya ucapkan kalimat khas beserta data dan fakta pendukung yang dapat meyakinkan mereka. Alhasil, mereka berdua termasuk dalam lima peringkat teratas di kelas tersebut dan beberapa kali mewakili sekolah di berbagai ajang perlombaan akademik.

Ketika SMA, saya juga tak lepas dari perjumpaan dengan kondisi semacam ini. Mulai dari tidak percaya diri bisa mengerjakan soal ulangan harian, ujian semester, hingga ujian nasional. Padahal, orang-orang ini diberi karunia luar biasa. “Aku ga bisa nih buat ulangan kimia besok“. “Unas besok aku harus gimana ya? Aku takut“. “Aku gak yakin nih bisa keterima di jurusan X di universitas Y“. Seperti itulah ucapan-ucapan yang tak jarang saya dengar.

Di fase kehidupan setelah SMA juga tak jarang saya temui keadaan semacam itu. Di perkuliahan maupun kini membaur di masyarakat, mental block masih menjadi isu yang sering saya temui. Malahan, di fase ini, keadaan yang saya temui menjadi makin beragam. Mulai dari mereka yang takut karena setelah lulus kuliah hanya akan jadi pengangguran, mereka yang tidak percaya diri dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan yang diberikan, mereka yang tidak berani mencoba tantangan baru, hingga mereka yang tidak mau kembali menjalin hubungan cinta karena pernah tersakiti.

Mengatasi mental block memang bukan hal mudah. Saya pun pernah merasakannya. Mengatasi mental block membutuhkan kesadaran diri yang kuat. Selain itu, diperlukan pula kondisi lingkungan yang mendukung.

Kesadaran diri yang kuat sangat susah dimunculkan dalam waktu sekejap. Pertama, seseorang perlu meyakinkan diri bahwa ia bisa melakukan hal yang sebelumnya ia anggap tak bisa ia lakukan. Proses ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, memahami potensi diri serta pengalaman yang telah didapat, memikirkan secara rasional dan obyektif mengenai hal baru yang akan dilakukan, dan memahami manfaat yang diperoleh apabila berani mengatasi mental block.

Kemudian, yang tak kalah susahnya adalah menjaga agar tetap konsisten berada dalam kesadaran diri. Menyalakan api memang susah. Namun, menjaga agar api tetap berpijar di bawah guyuran hujan jauh lebih susah. Proses ini sejatinya bisa beratus-ratus kali lipat lebih susah daripada memunculkan kesadaran diri.

Terkadang, keyakinan saja tidak cukup. Pengondisian yang tepat juga dibutuhkan demi menjaga nyala api yang sudah berpijar terang. Di sinilah lingkungan berperan. Lingkungan yang mendukung tentu bisa membantu agar kesadaran diri tetap terjaga meski diterpa pesimisme. Contoh pengondisian yang tepat adalah sering menerima pengetahuan-pengetahuan baru yang memunculkan motivasi diri (membaca buku, mendengar cerita heroik, dan lain sebagainya) atau berada di sekitar orang-orang optimis dan mampu berpikir rasional dan obyektif.

Ada satu kalimat yang menurut saya bisa menjadi doktrin (dalam makna positif) yang cerdas untuk mengatasi mental block. “Allah tidaklah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya“. Dimana cerdasnya? Pertama, kita coba baca dan resapi kalimat tersebut. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut. “Batas kemampuanku sampai mana? Apakah sampai di titik ini? Apakah sampai di titik itu? Atau batasannya adalah tanpa batas?“. Kita mungkin tidak benar-benar tahu batas kemampuan kita. Batasan yang kita tahu, bisa jadi hanyalah manifestasi dari ketakutan yang kita pupuk. Misalnya, seorang pelari mampu menempuh jarak 100 meter dalam waktu 20 detik. Awalnya ia mengira bahwa ia tak akan bisa lebih cepat dari itu. Namun, ia tetap berlatih. Kini ia bisa mencapai jarak 100 meter dalam waktu 15 detik. Ia masih mengira bahwa ia tak bisa lebih cepat dari 15 detik. Namun, ia masih tetap berlatih. Akhirnya, ia bisa menempuh jarak 100 meter hanya dalam waktu 10 detik. Bisakah ia lebih cepat lagi? Well, kita tak pernah tahu sampai mana batas kemampuannya selagi ia masih mau berusaha.

Bagi saya, kalimat tersebut sungguh cerdas. Kalimat tersebut sangat memotivasi dan di sisi lain mencoba memberitahu kita bahwa kita harus terus berusaha hingga batas kemampuan yang mungkin kita sendiri tak tahu sampai mana batas kemampuan kita. Sungguh Maha Cerdas Zat Pemilik Kalimat Itu.

Mental block bukanlah hal yang harus sepenuhnya dibuang jauh-jauh. Mental block juga bukan suatu hal sepenuhnya harus dipelihara dengan penuh kasih sayang. Mental block harus dikelola sedemikian rupa agar mental block positif selalu terpatri dalam hati dan mental block negatif selalu berada di luar nurani. Semoga kita semua mampu mengelola mental block seperti yang seharusnya agar diri kita menjadi lebih baik dan mampu membawa kemaslahatan yang dampaknya tidak hanya bagi diri kita pribadi, tapi juga untuk umat manusia. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s