A Conversation with Mind

It is been a while since I had my ‘me time’. What is ‘me time’? I call it ‘me time’ because I spend all of my time with ‘them’. Who are ‘they’? Well, if you know the theory about multiple personality, you may know about ‘them’. They are the personalities lie in one person. Among ‘them’, I know best about one personality. I often talked to ‘him’. ‘He’ is the wisest mind I’ve ever known.

The last time I talked to ‘him’ was four to six months ago. I just talked to ‘him’ about an hour but ‘he’ gave me so many things. Then, earlier, I talked to ‘him’ in a full week. It was my longest streak with ‘him’. I didn’t go anywhere at that time. I didn’t go to college. I just sat, played, and talked each other in ‘his palace’. You may think that it is ridiculous, but I don’t care. I really did it. And, I know I am not the only one. I know people who do the same thing. Continue reading

Advertisements

Dari Merah ke Putih

Sudah tiga hari Sudrun berwajah pucat pasi. Lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai. Persis seperti orang kena penyakit anemia. Padahal waktu ke dokter tiga hari lalu kesehatannya baik-baik saja. Lah dalah, kok sekarang jadi seperti mayat hidup gini. Kondisinya sudah seperti kurs rupiah terhadap dollar, makin hari makin mengenaskan.

“Aku bingung, Jo”, kata Sudrun.
“Ada apa, Drun?” jawab Paijo.
Gini lho, Jo. Pacarku lagi marah-marah. Minta liburan ke ibukota tapi naik pesawat. Uang darimana? Gaji pas-pas-an. Buat modal nikah saja susah. Jangankan nikah, pacaran saja nongkrongnya di warung kopi, Jo.”
“Aduh aduh. Ayak ayak wae pacarmu, Drun. Naik pesawat kan sekarang mahal. Lah, sama Pak Menteri dinaikkan harga tiketnya gegara kejadian pesawat merah kapan hari itu.” Continue reading

Cinta Tak Menunggu

Senja yang kulihat kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Matahari seakan mengucapkan selamat petang kepadaku yang sedang duduk di tepi pantai. Desir  ombak melantunkan nada indah untuk menyambut sang malam. Kulambaikan tanganku sebagai tanda perpisahanku dengan matahari. Kusimpulkan senyumku sebagai tanda terima-kasihku kepada matahari.

Ya, sudah sepatutnya aku berterimakasih kepada matahari. Sinarnya membuatku bergerak. Sinarnya memberi kehidupan bagi pepohonan. Sinarnya membuat sang hewan tak lagi tersungkur letih.

Beberapa suara langkah kaki mendekat dari arah belakangku. Awalnya kuhiraukan apapun yang mendekat ke arahku. Aku hanya ingin menikmati tenggelamnya sang surya. Hingga akhirnya satu suara langkah kaki berhenti tepat disampingku. Aku percaya, perpisahan yang tak diucapkan, suatu saat akan bertemu lagi untuk membayar semua itu. Seorang gadis cantik telah duduk disampingku. Hesita, begitu aku biasa menyapanya. Continue reading

Keputusan dan Keajaiban

Tulisan berikut adalah karya sahabat saya, seorang mahasiswa jurusan Kedokteran Umum di Universitas Diponegoro (Undip), sekaligus pimpinan tertinggi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip. Tulisan ini diamanahkan kepada saya untuk diterbitkan di blog pribadi saya. Sebuah tulisan yang menurut saya cukup untuk membuat iman kita kepada Tuhan semakin bertambah.

—–

Beberapa minggu lalu (Maret 2014), saya mendapat sebuah pengalaman menarik yg InsyaAllah bisa teman-teman ambil hikmahnya.
Berawal dari undangan oleh rekan-rekan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip untuk mengikuti Rapat Kerja (Raker) Awal tahun. Yang membuat menarik adalah acara ini tidak diadakan di dalam gedung atau tempat yang dekat dengan kampus kami. Nglimut , Kendal, Jawa Tengah, inilah tempat diadakannya acara tersebut. Di sebuah area bumi perkemahan, jadi pastinya jauh dan masuk meninggalkan daerah kota menuju kawasan hutan. 
Continue reading